Mutiara Pagi: Cinta Dunia Berlebihan - Menjadikan Dunia Sebagai Tujuan dan Melupakan Akhirat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI • 14 Oct 2026 04:06 • Admin NA • 18 kali dibaca
Mutiara Pagi: Cinta Dunia Berlebihan - Menjadikan Dunia Sebagai Tujuan dan Melupakan Akhirat. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id Pemanggilan - Cinta dunia yang berlebihan adalah ketika hati terlalu terpikat kepada harta, jabatan, popularitas, kenikmatan, dan kesenangan dunia hingga mengalahkan cinta kepada Allah dan perhatian terhadap kehidupan akhirat.

Islam tidak melarang memiliki dunia. Yang tercela adalah ketika dunia berada di hati, bukan sekadar di tangan; ketika seseorang rela meninggalkan kewajiban, menghalalkan yang haram, atau melupakan kematian demi mengejarnya.

Allah berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.” (QS. Al-Hadid: 20)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengingatkan bahwa dunia bukan tempat tinggal abadi. Kenikmatan dunia bagi seorang mukmin harus dilihat sebagai perjalanan menuju kehidupan yang lebih kekal.

Kisah Salaf

Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu pernah melihat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam tidur di atas tikar hingga membekas pada tubuh beliau. Umar menangis melihat keadaan tersebut.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengingatkan bahwa beliau tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, sebagaimana seorang musafir yang berteduh sebentar di bawah pohon kemudian meninggalkannya.

Demikianlah pandangan para salaf: dunia digunakan sebagai kendaraan, bukan dijadikan tujuan perjalanan.

Bahaya dan Manfaat

Cinta dunia yang berlebihan membuat seseorang mudah mengorbankan prinsip demi keuntungan. Ia takut kehilangan jabatan, takut miskin, haus pujian, dan gelisah ketika melihat orang lain memiliki lebih banyak.

Yang paling berbahaya, dunia perlahan memenuhi hati hingga akhirat terasa jauh.

Sebaliknya, menjadikan dunia sebagai sarana untuk akhirat membuat seseorang tetap bekerja, berdagang, memiliki harta dan menikmati rezeki Allah, tetapi semuanya diarahkan untuk kebaikan.

Contoh dalam Kehidupan Sehari-hari

- Menunda shalat karena pekerjaan atau urusan dunia.
- Mengejar uang sampai melupakan keluarga dan kesehatan.
- Rela berbohong atau menipu demi keuntungan.
- Terlalu sibuk mengejar popularitas dan pujian manusia.
- Sedih berlebihan ketika kehilangan harta, tetapi tidak bersedih ketika kehilangan kesempatan beribadah.
- Mengukur kemuliaan seseorang hanya dari rumah, kendaraan, jabatan, atau kekayaannya.

Solusi

1.Perbanyak mengingat kematian, karena dunia memiliki batas.
2.Perbanyak membaca ayat tentang akhirat dan kefanaan dunia.
3.Jadikan harta sebagai alat ibadah, bukan tujuan hidup.
4.Biasakan bersedekah, agar hati tidak terlalu terikat kepada harta.
5.Sediakan waktu khusus untuk ibadah, meskipun kesibukan dunia sangat banyak.
6.Berteman dengan orang yang mengingatkan kepada Allah dan akhirat.
7.Muhasabah: tanyakan kepada diri sendiri, “Jika hari ini aku mati, apa yang telah kusiapkan?”

Renungan Penutup

Dunia selalu menawarkan sesuatu yang baru. Ketika satu keinginan terpenuhi, muncul keinginan berikutnya. Rumah sudah ada, ingin lebih besar. Kendaraan sudah bagus, ingin yang lebih mahal. Harta sudah banyak, masih ingin lebih banyak.

Jika hati menjadikan dunia sebagai tujuan, tidak akan pernah ada kata selesai.

Suatu hari kita akan meninggalkan semua yang kita kumpulkan. Rumah akan ditempati orang lain. Harta akan berpindah tangan. Jabatan akan berganti. Nama perlahan dilupakan.

Yang ikut masuk ke dalam kubur hanyalah amal.

"Jangan jadikan dunia sebagai rumah, karena engkau hanya sedang melewatinya. Jadikan ia ladang, karena di sanalah engkau menanam bekal untuk kehidupan yang tidak pernah berakhir." (*/267)
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 9 = ?
Berita Terkait