Mutiara Pagi: Berislam Secara Utuh. Tadabbur Surah Ash-Shaff : ayat 9 Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Allah Ta'alaa berfirman :
{ هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ }
Dialah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membenci. [Surat Ash-Shaf: 9]
Allah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Islam bukan sekadar ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan Allah ketika berada di masjid atau saat menunaikan ibadah di Tanah Suci. Islam adalah jalan hidup yang semestinya hadir dalam seluruh aktivitas kita, di mana pun dan kapan pun.
Berislam bukan hanya ketika kita mengenakan sarung, peci, atau pakaian yang menunjukkan identitas sebagai seorang Muslim. Lebih dari itu, Islam harus tampak dalam cara kita bekerja, mencari nafkah, memperlakukan orang lain, mengambil keputusan, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Berislamlah ketika menggarap sawah dan ladang. Bekerjalah dengan tekun, rawatlah tanaman dengan sungguh-sungguh, lalu panenlah hasilnya dengan penuh rasa syukur. Sebab, mencangkul tanah dan menanam benih pun bisa menjadi bagian dari ibadah ketika dilakukan dengan niat yang baik dan cara yang benar.
Berislamlah ketika melaut mencari ikan. Hadapi ombak, jalani pekerjaan dengan kesungguhan, dan bawalah pulang rezeki yang halal untuk menghidupi anak dan istri. Jangan hanya mengandalkan doa, tetapi tinggalkan pula kemalasan. Tawakal bukan berarti berpangku tangan, melainkan bekerja sekuat tenaga sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Berislamlah ketika berdagang di pasar. Jangan menipu timbangan, jangan menyembunyikan cacat barang, dan jangan mengambil keuntungan dengan merugikan orang lain. Bangunlah kekuatan ekonomi umat melalui perdagangan yang jujur dan usaha yang halal. Sebab, kesalehan seseorang tidak hanya terlihat dari panjangnya doa, tetapi juga dari kejujurannya ketika berhadapan dengan uang dan keuntungan.
Berislamlah ketika belajar dan mengajar. Carilah ilmu dengan sungguh-sungguh, sampaikan pengetahuan dengan tulus, dan jangan berhenti mengembangkan kemampuan. Kita membutuhkan generasi Muslim yang kuat imannya, luas ilmunya, terampil pekerjaannya, dan mampu membangun peradaban yang bermartabat.
Berislamlah pula ketika berserikat, bermusyawarah, dan bekerja bersama orang lain. Belajarlah saling menguatkan, menolong yang lemah, menghargai perbedaan, serta mengutamakan kemaslahatan bersama. Jangan sampai kita rajin berbicara tentang persaudaraan, tetapi mudah bertengkar ketika kepentingan pribadi terganggu.
Begitulah Islam seharusnya hadir: menyeluruh dalam kehidupan, menyatu dalam gerak jasmani dan ruhani, serta menjadi pedoman dalam urusan pribadi maupun kemasyarakatan.
Kita tidak boleh mempersempit Islam hanya pada urusan masjid, sementara kejujuran di pasar diabaikan; hanya pada ibadah ritual, sementara tanggung jawab pekerjaan dilupakan; atau hanya pada simbol-simbol keagamaan, sementara amanah dan keadilan tidak ditegakkan.
Jangan kerdilkan Islam hanya sebatas sarung dan peci. Jangan batasi kesalehan hanya pada sajadah dan tempat ibadah. Bawalah nilai-nilai Islam ke sawah, ke laut, ke pasar, ke sekolah, ke kantor, ke ruang musyawarah, bahkan ke setiap keputusan yang kita ambil.
Sebab, menjadi Muslim bukan hanya tentang bagaimana kita beribadah ketika menghadap Allah, melainkan juga tentang bagaimana kita menjalani kehidupan yang telah Allah amanahkan.
Islam harus hidup dalam diri kita, terlihat dalam pekerjaan kita, terasa dalam sikap kita, dan membawa manfaat bagi sesama.
Berislamlah secara utuh. Taat kepada Allah dalam ibadah, jujur dalam pekerjaan, adil dalam pergaulan, kuat dalam persaudaraan, dan sungguh-sungguh dalam membangun kehidupan. Itulah Islam yang tidak berhenti pada simbol, tetapi tumbuh menjadi kekuatan yang menghidupkan peradaban. (*/268)
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar