Mimbar Jum'at: Hati yang Dipandang Allah.Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

Mimbar Jumat 07 Aug 2026 03:11 adm@nataragung.id

nataragung.id - Pemanggilan - Di dunia ini, manusia terbiasa memandang dengan mata. Mata terpikat oleh wajah yang rupawan, tubuh yang tegap, pakaian yang indah, dan kemewahan yang berkilau. Betapa sering ukuran kemuliaan ditimbang dengan apa yang tampak, padahal segala yang tampak akan dimakan usia, dilipat oleh waktu, lalu kembali menjadi tanah.

Namun Allah Yang Mahabijaksana tidak menilai sebagaimana manusia menilai. Dia tidak tertipu oleh kilauan yang menyilaukan mata, karena Dia melihat apa yang tidak mampu dijangkau oleh pandangan manusia. Dia menembus dinding-dinding dada, menyaksikan rahasia yang paling tersembunyi, dan mengetahui bisikan hati sebelum sempat diucapkan oleh lisan.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ صَخْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ

"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh-tubuh kalian dan tidak pula kepada rupa kalian. Akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian." (HR. Muslim).

Betapa agung sabda ini. Ia memindahkan pandangan kita dari cermin menuju hati, dari penampilan menuju keikhlasan, dari apa yang dipuji manusia menuju apa yang dicintai Allah.

Hati adalah raja, sedangkan seluruh anggota badan hanyalah pasukannya. Jika sang raja lurus, seluruh pasukan akan berjalan di jalan yang benar. Jika ia rusak, maka seluruh amal akan kehilangan arah. Karena itu para ulama memberikan perhatian yang begitu besar kepada kebersihan hati, sebab hati yang bersih adalah sumber segala kebaikan.

Di sanalah tumbuh keikhlasan yang menjadikan amal kecil bernilai besar. Di sanalah bersemi tawakal yang menenangkan jiwa di tengah badai. Di sanalah lahir rasa takut kepada Allah yang menahan tangan dari kezaliman, dan rasa cinta kepada-Nya yang menghidupkan malam-malam dengan munajat.

Sebaliknya, bila hati dipenuhi riya', hasad, kesombongan, dendam, dan cinta dunia yang berlebihan, maka amal-amal yang tampak megah dapat runtuh nilainya di sisi Allah. Sebagaimana air yang jernih menjadi keruh karena setetes racun, demikian pula amal dapat rusak oleh penyakit hati yang tidak disucikan.

Maka seorang mukmin yang cerdas tidak hanya sibuk memperindah wajahnya, tetapi lebih sibuk membersihkan hatinya. Ia tidak hanya mengusap debu yang menempel pada pakaian, tetapi juga menghapus debu kesombongan yang menempel pada jiwanya. Ia lebih khawatir terhadap noda riya' daripada noda yang tampak pada bajunya, karena yang pertama mengurangi pahala, sedangkan yang kedua hanya mengurangi keindahan di mata manusia.

Sesungguhnya hati adalah kebun tempat amal-amal bertumbuh. Bila tanahnya subur oleh iman, disirami dengan zikir, dipagari oleh muraqabah kepada Allah, dan dibersihkan dari gulma dosa, maka akan tumbuh pohon-pohon amal yang buahnya dipetik di dunia dan di akhirat. Namun bila kebun itu dibiarkan dipenuhi duri hawa nafsu, maka tidak akan lahir darinya kecuali penyesalan.

Oleh sebab itu, para ulama menegaskan bahwa hadis ini mengajarkan pentingnya memperhatikan keadaan hati, meluruskan niat, membersihkan tujuan hidup, serta menyucikan hati dari setiap sifat yang tercela. Sebab amalan hati merupakan penopang seluruh amal lahiriah, dan kesempurnaannya terwujud dengan senantiasa merasa diawasi oleh Allah Yang Maha Melihat.

Marilah kita lebih sering bercermin kepada hati daripada kepada wajah. Sebab wajah hanya akan menemani kita hingga liang lahat, sedangkan hati yang bersih akan menemani kita menghadap Allah.

Bukankah pada hari kiamat nanti tidak ada yang menyelamatkan seseorang selain hati yang datang kepada Allah dalam keadaan bersih?

﴿يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ﴾

"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'ara: 88–89).

Semoga Allah, mensucikan hati kita dari riya', kesombongan, dengki, dan kemunafikan. Menjadikan hati kita ikhlas hanya untuk-Nya senantiasa kembali kepada-Nya, tenteram dengan mengingat-Nya, dan anugerahkanlah kepada kita hati yang bersih untuk kita bawa ketika berjumpa dengan-Nya. Amin." <>


✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
? Mimbar Jum'at

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

4 + 8 = ?
Berita Terkait