Mimbar Jum'at: 7 Amalan Yang Mengantarkan Kita Kepada Husnul khatimah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MIMBAR JUMAT • 09 Oct 2026 01:45 • Admin NA • 20 kali dibaca
Mimbar Jum'at: 7 Amalan Yang Mengantarkan Kita Kepada Husnul khatimah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Husnul khatimah bukan sekadar keinginan untuk meninggal dalam keadaan baik. Ia adalah buah dari kehidupan yang baik. Seseorang yang ingin mendapatkan akhir yang indah harus belajar menjalani hari-harinya dalam ketaatan kepada Allah.

Kematian tidak pernah memberi tahu kapan ia datang. Karena itu, yang paling penting bukan menunggu datangnya kematian, tetapi mempersiapkan diri sebelum kematian datang.

Berikut tujuh amalan yang insya Allah menjadi sebab seseorang mendapatkan husnul khatimah.

Pertama, Menjaga tauhid dan ikhlas kepada Allah

Amalan pertama dan paling utama adalah menjaga tauhid. Jangan sampai hati bergantung kepada selain Allah, dan jangan mencampurkan ibadah dengan kesyirikan.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim."v(QS. Ali 'Imran: 102)

Ayat ini mengajarkan bahwa persiapan menghadapi kematian dimulai dari kehidupan yang tunduk kepada Allah. Jangan menunggu tua untuk menjadi saleh. Jangan menunggu sakit untuk bertaubat.

Sebab kita tidak tahu, apakah masih ada hari esok bagi kita.

Kedua, Menjaga shalat

Shalat adalah hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya. Orang yang menjaga shalat berarti sedang menjaga salah satu ikatan terpenting dalam hidupnya.

Allah berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ ۝ أُولَٰئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ۝ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

"Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya." (QS. Al-Mu'minun: 9–11)

Jangan meremehkan shalat hanya karena kita merasa masih memiliki banyak dosa. Justru ketika dosa semakin banyak, kita semakin membutuhkan shalat.

Boleh jadi, satu sujud yang kita lakukan dengan hati yang benar menjadi sebab Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Ketiga, Memperbanyak taubat dan istighfar

Tidak ada manusia yang bersih dari kesalahan. Yang membedakan adalah apakah setelah jatuh ia kembali kepada Allah atau justru terus berjalan menjauh.

Allah berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung."
(QS. An-Nur: 31)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sendiri, manusia yang telah diampuni dosa-dosanya, tetap memperbanyak istighfar. Beliau bersabda:

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

"Demi Allah, sungguh aku beristighfar kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari." (HR. Bukhari)

Jangan biarkan dosa mengendap terlalu lama di dalam hati. Segeralah kembali.

Sebab kita tidak tahu, apakah kematian akan datang setelah kita bertaubat atau justru ketika kita sedang bermaksiat.

Keempat, Memperbanyak dzikir dan menghidupkan hati dengan Al-Qur'an

Hati yang jauh dari Allah mudah dikuasai kegelisahan. Karena itu, biasakan lidah berdzikir dan hati dekat dengan Al-Qur'an.

Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

"Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Rabb-nya dengan orang yang tidak berdzikir kepada Rabb-nya adalah seperti orang hidup dan orang mati." (HR. Bukhari)

Jangan hanya membersihkan rumah dan tubuh, tetapi lupa membersihkan hati.

Bacalah Al-Qur'an. Perbanyak istighfar. Ucapkan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil. Biarkan nama Allah menjadi sesuatu yang akrab di lidah kita, sehingga mudah-mudahan ketika ajal datang, hati kita pun sedang mengingat-Nya.

Kelima, Memperbanyak amal saleh meskipun kecil

Husnul khatimah tidak dibangun oleh satu amal besar yang dilakukan sesekali. Ia sering kali dibentuk oleh amal-amal kecil yang dilakukan terus-menerus.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka jangan meremehkan sedekah kecil, membaca beberapa ayat Al-Qur'an, membantu orang lain, menjenguk orang sakit, tersenyum kepada saudara, atau menahan lisan dari menyakiti orang lain.

Bisa jadi amal yang kita anggap kecil justru menjadi amal yang paling berat di timbangan.

Keenam, Menjaga hati, lisan, dan hak manusia

Banyak orang rajin beribadah, tetapi lisannya masih mudah menyakiti. Tangannya masih mengambil hak orang lain. Hatinya masih dipenuhi dengki, dendam dan kesombongan.

Padahal Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengingatkan:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

"Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatan maupun sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta kehalalan darinya hari ini, sebelum datang hari ketika tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR. Bukhari)

Karena itu, sebelum tidur, cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Siapa yang mungkin telah aku sakiti hari ini?
Siapa yang haknya belum aku tunaikan?
Siapa yang perlu aku maafkan?
Dan kepada siapa aku harus meminta maaf?

Jangan sampai kita membawa terlalu banyak urusan manusia ketika menghadap Allah.

Ketujuh, Banyak berdoa agar diwafatkan dalam keadaan iman

Pada akhirnya, husnul khatimah adalah karunia Allah. Kita wajib beramal, tetapi kita tidak boleh merasa aman dengan amal kita.

Allah berfirman:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

"Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami menyimpang setelah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkaulah Maha Pemberi." (QS. Ali 'Imran: 8)

Dan di antara doa yang sangat baik untuk diamalkan:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat Yang Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Tirmidzi)

Sebab hati manusia bisa berubah. Hari ini kita menangis karena takut kepada Allah, tetapi siapa yang menjamin keadaan hati kita beberapa tahun mendatang?

Maka jangan pernah berhenti meminta kepada Allah agar diteguhkan sampai akhir hayat.

Penutup: Jangan Hanya Memikirkan Bagaimana Kita Hidup, Pikirkan Bagaimana Kita Akan Mati

Hidup ini pada akhirnya akan berhenti.

Harta yang kita kumpulkan akan ditinggalkan. Rumah yang kita bangun akan ditempati orang lain. Jabatan akan berganti. Nama kita perlahan dilupakan.

Tetapi ada satu perjalanan yang pasti kita tempuh: perjalanan menuju Allah.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

"Apa yang sudah aku dapatkan dalam hidup ini?"

Tetapi tanyakan pula:

"Apa yang sudah aku persiapkan untuk kehidupan setelah kematian?"

Husnul khatimah bukanlah sesuatu yang tiba-tiba hadir di detik terakhir kehidupan. Ia adalah buah dari iman yang dijaga, shalat yang dipelihara, dosa yang ditaubati, hati yang dibersihkan, amal yang terus dilakukan, hak manusia yang ditunaikan, dan doa yang tidak pernah berhenti.

Semoga ketika hari terakhir itu tiba, kita tidak sedang mengejar dunia.

Semoga kita sedang dalam keadaan mengingat Allah.

Semoga lisan kita masih mampu mengucapkan kalimat tauhid.

Dan semoga Allah memanggil kita dengan panggilan yang paling indah:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ۝ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝ وَادْخُلِي جَنَّتِي

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang rida dan diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr: 27–30)

Itulah akhir yang kita rindukan: mati dalam keadaan Allah ridha kepada kita. <>
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mimbar Jum'at

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 1 = ?
Berita Terkait