Menyelamatkan Identitas Lampung Sebelum Terlambat Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 10 Oct 2026 01:23 • Admin NA • 44 kali dibaca
Menyelamatkan Identitas Lampung Sebelum Terlambat Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, anak-anakku. Mari duduk sebentar di beranda ini. Angin dari Teluk Lampung sedang membawa kabar baik, tetapi juga kabar yang perlu kita dengarkan dengan hati tenang.

Di Kampung Padang Cermin, dulu hidup seorang tetua bergelar Punyimbang Tua. Setiap sore ia duduk di kursi rotan, memandang anak-anak yang bermain di halaman. Suatu hari ia bertanya kepada seorang anak, "Kau tahu margamu?"
Anak itu menggeleng.
Tetua itu tersenyum, tetapi matanya basah. Ia berkata pelan, "Kalau kau tidak tahu margamu, bagaimana kau tahu siapa dirimu?"
Sejak hari itu, ia mengumpulkan anak-anak kampung. Ia mengajarkan bahasa Lampung, pantun, dan cerita marga. Tidak dengan papan tulis, tetapi dengan dongeng sebelum tidur. Tidak dengan ujian, tetapi dengan nyanyian.
Orang tua itu pernah berkata, "Budaya tidak akan bertahan hanya karena usianya sudah tua. Budaya bertahan karena ada manusia yang terus mengenal, mencintai, mempraktikkan, dan mewariskannya."
Petuah itu menjadi nafas cerita kita hari ini.

Identitas suatu masyarakat tidak hanya terlihat dari tempat tinggalnya. Ia terlihat dari bahasa yang dipakai, adat yang dijalankan, nilai yang dipegang, dan tradisi yang dirawat.
Budaya Lampung adalah bagian dari identitas yang harus dijaga bersama. Menyelamatkan budaya berarti menyelamatkan ingatan dan jati diri masyarakat.
Kita tidak boleh membiarkan generasi mendatang kehilangan hubungan dengan akar budayanya sendiri. Sebab akar yang hilang membuat pohon mudah tumbang.
Lampung disebut Sai Bumi Ruwa Jurai, satu bumi dua jurai. Jurai pertama adalah Pepadun, jurai kedua adalah Saibatin.
Pepadun hidup di pedalaman, di daerah Abung, Way Kanan, Tulang Bawang, dan Seputih. Saibatin hidup di pesisir, dari Krui hingga Kalianda.
Dua jurai ini berbeda tata cara, tetapi satu nafas. Keduanya berdiri di atas Piil Pesenggiri.
Piil Pesenggiri berarti harga diri dan kehormatan. Orang Lampung boleh miskin harta, tetapi tidak boleh miskin marwah.
Allah berfirman: 
وَلَـقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىۡۤ اٰدَمَ وَحَمَلۡنٰهُمۡ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنٰهُمۡ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلۡنٰهُمۡ عَلٰى كَثِيۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيۡلًا
Wa laqad karramnaa Baniii aadama wa hamalnaahum fil barri walbahri wa razaqnaahum minat taiyibaati wa faddalnaahum 'alaa kasiirim mimman khalaqnaa tafdiilaa
"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna."  (QS. Al-Isra: 70).

Ayat ini turun sebagai penegasan bahwa kemuliaan manusia adalah pemberian Allah. Maka menjaga harga diri bukan kesombongan, melainkan syukur atas kemuliaan yang Allah titipkan.
Juluk-Adok, yakni gelar kehormatan. Seseorang diberi gelar bukan untuk membanggakan diri, tetapi untuk mengingatkan tanggung jawab. Gelar Dalom, Punyimbang, atau Sutan bukan mahkota, melainkan amanah.
Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Rumah orang Lampung terbuka bagi tamu. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Nengah Nyappur, keterbukaan dan kemampuan bergaul. Orang Lampung tidak menyendiri. Ia hadir di tengah masyarakat, duduk bersama, berbicara bersama, membangun bersama.
Sakai Sambayan, gotong-royong. Allah berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa." (QS. Al-Ma'idah: 2).

Ayat ini turun ketika kaum mukmin diperintahkan saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
Kelima tiang ini bukan buatan manusia semata. Ia adalah kearifan yang Allah tanamkan dalam hati orang Lampung, lalu disempurnakan mmoleh wahyu.
Marga-marga Pepadun seperti Buay Pemuka, Buay Peminggir, dan Buay Nunyai memiliki silsilah panjang. Konon mereka berasal dari keturunan Raja Tumi di Sekala Brak.
Dalam Kronik Sekala Brak disebutkan bahwa sebelum Islam datang, negeri ini diperintah oleh empat raja dari keturunan Dewa. Setelah Islam masuk melalui ulama dari Pagaruyung dan Banten, gelar-gelar itu dilebur ke dalam kerangka syariat.
Marga Saibatin seperti Belalau, Pesisir, dan Melinting menempati garis pantai. Mereka dikenal dengan gelar Sutan, Raja, atau Batin.
Di Kampung Gunung Sugih, seorang Punyimbang tua pernah berkata, "Kalau aku memutuskan dengan marah, aku bukan Punyimbang. Aku hanya orang yang kebetulan duduk di kursi."
Banyak upacara adat Lampung yang jika dipahami dengan benar, justru selaras dengan Islam.
Ngebabali adalah tradisi membersihkan dan menempati rumah baru. Dulu dilakukan dengan sesajen. Namun kini, setelah Islam menjadi nafas masyarakat, Ngebabali diisi dengan doa, selawat, dan sedekah.
Tidak ada lagi persembahan kepada selain Allah. Yang tinggal hanyalah semangat syukur dan silaturahmi.
Begawi adalah upacara pemberian gelar adat. Sebelum gelar disandang, dibacakan doa dan nasihat agama. Gelar bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk mengingatkan bahwa semakin tinggi kedudukan, semakin besar tanggung jawab di hadapan Allah.

Cangget adalah tari penyambutan tamu. Dimainkan dengan gerak lembut dan penuh hormat. Tidak ada unsur syirik di dalamnya. Cangget adalah ekspresi Nemui Nyimah.
Kita tidak perlu membuang adat yang baik. Kita hanya perlu menyucikannya dari yang bukan berasal dari Allah.
Pancasila bukan barang asing bagi orang Lampung.
Sila pertama tercermin dalam tauhid yang dianut. Sila kedua dalam Piil Pesenggiri. Sila ketiga dalam Sai Bumi Ruwa Jurai. Sila keempat dalam musyawarah Punyimbang. Sila kelima dalam Sakai Sambayan.
Jadi, ketika orang bertanya apakah Pancasila sesuai dengan adat Lampung, jawabannya sederhana. Pancasila bukan menimpa adat, ia menegaskan apa yang sudah lama tumbuh di bumi ini.
Sekarang, mari kita jujur. Banyak anak muda Lampung tidak lagi bisa berbahasa Lampung. Banyak yang tidak tahu marga sendiri. Banyak yang tidak hadir ketika Begawi digelar di kampungnya.
Kalau ini dibiarkan, bukan mustahil satu generasi lagi, kata "Punyimbang" hanya ada di buku. "Nengah Nyappur" hanya jadi slogan di spanduk.
Namun kita tidak boleh menyerah. Pelestarian bisa dimulai dari hal kecil.
Orang tua mengajak anak ke upacara adat. Guru mengajarkan bahasa Lampung dengan gembira. Tokoh adat membuka rumah untuk cerita, bukan hanya untuk tamu resmi.
Anak-anakku, adat itu seperti api. Ia tidak akan menyala sendiri. Harus ada yang menaruh kayu, meniup bara, menjaganya dari hujan.
Allah berfirman: 
وَلَا تَكُوۡنُوۡا كَالَّذِيۡنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنۡسٰٮهُمۡ اَنۡفُسَهُمۡ‌ؕ اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ
Wa laa takuunuu kallaziina nasul laaha fa ansaahum anfusahum; ulaaa'ika humul faasiquun
Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik. (QS. Al-Hasyr: 19).
Ayat ini turun sebagai peringatan bagi orang yang lalai terhadap jati dirinya.
Kalau kita melupakan adat, kita akan melupakan siapa diri kita. Dan kalau kita lupa siapa diri kita, kita akan kehilangan arah di hadapan Allah dan di hadapan manusia.
Maka jagalah adat. Bukan karena ia tua, tetapi karena ia benar. Bukan karena ia milik nenek moyang saja, tetapi karena ia milik anak cucu kita.
Tabik pun.

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani, gelar Dalom Putekha Jaya Makhga. Adat Pepadun Lampung dan Tata Cara Begawi. Bandar Lampung: Penerbit Budaya Lampung.
2. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
3.     Al-Qur'an al-Karim dan terjemahnya. Kementerian Agama Republik Indonesia.
4. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, kitab al-Adab.
5. Kronik Sekala Brak, naskah kuno masyarakat Lampung Barat.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 7 = ?
Berita Terkait