Menolak Lupa: Jangan Bongkar Gedung Tertua Universitas Lampung, Pesan Untuk Rektor Unila ke Depan

BANDAR LAMPUNG 12 Sep 2026 09:42 Admin NA 13 kali dibaca
Menolak Lupa: Jangan Bongkar Gedung Tertua  Universitas Lampung, Pesan Untuk Rektor Unila ke Depan

Prof. Admi Syarif, PhD.
Guru besar Unila dan penulis buku “50 Tahun Univeristas Lampung Membangun Negeri”

nataragung.id - Bandar Lampung - Setiap kali saya mengunjungi sesepuh Unila dan tokoh-tokoh Lampung dan berdiskusi tentang Unila tempo dulu, saya selalu menanyakan romantisme tempat kos pertama di Kampung Baru, siapa mahasiswa pertama yang kos di sana, cerita gedung pertama kali di bangun di kampus gedung Meneng dan lain-lain. Kemarin, saya sengaja berkeliling mess-mess dosen Unila untuk mengenang cerita 
dahulu sangat rapi dan indah. Namun sedih hati melihat mess D (belakang BNI, dekat rumah Bapak Prof. Muhajir tempo dulu) yang tidak berpenghuni, kotor dan rusak berat. Ah ! Sebelumnya saya mencoba makan siang  sambil  cerita di warung Bu Wito.

Kalimat ini mungkin terdengar sederhana. Bahkan mungkin dianggap romantisme orang-orang yang terlalu mencintai masa lalu. Kita sudah punya pengalaman masjid Alwasi'i  yang dibongkar, GSG yang direhab. Hendaknya dengan perencanaan dan perhatian khusus.

Tetapi saya justru ingin menawarkan ide untuk rektor baru ke depan sebagai ikhtiar menjaga jejak sejarah kita  sendiri. Sejarah merupakan sesuatu yang akan diwariskan kepada generasi kita berikutnya.

Gedung pertama  di Kampus Gedung Meneng  pastinya kini bukan gedung yang paling megah. Usianya pun sudah jauh tertinggal dibandingkan bangunan-bangunan baru yang terus tumbuh. Letaknya di depan gedung PKM, agak di bawah jalan. Sangat strategis dan cukup luas.

Gedung, menurut saya,  itu menyimpan cerita  yang tidak bisa dibangun kembali dengan uang berapa pun: ia menghadirkan ingatan tentang bagaimana Universitas Lampung mulai membangun rumah besarnya di Gedung Meneng.

Karena itu, harapan kepada rektor baru janganlah gedung itu dibongkar ! 
Selamatkan. Rawat. Dan ubah menjadi Museum Perjalanan Universitas Lampung.

Museum dibuat semi terbuka. Orang yang berjalan dari ujung ke ujung seolah sedang berjalan melewati sejarah Unila: pendirian → perjuangan → pembangunan → modernisasi → prestasi → masa depan.

Di sepanjang koridor dapat ditempatkan QR kode yang terhubung kepada cerita  Prof. Sitanala Arsyad, Margono Slamet, para rektor terdahulu, pembangunan kampus, perkembangan fakultas, hingga pencapaian Unila hari ini. Bisa juga terhubung dengan video di layar lebar tentang kesenian, sastra, cerita dosen, penemuan terbaru atau budaya ulun Lamoung.

Dengan begitu, koridor ini bukan sekadar tempat lewat, tetapi tempat belajar, mengingat, dan menumbuhkan kebanggaan terhadap Unila.

Ah, pagi ini, sambil menyeruput  kopi akhir pekan,  kembali saya mengenang cerita dan terbayang museum tekstil yang ada di kota Kiryu, Jepang. Ah, seandainya mungkin saya menyarankan  rektor baru untuk studi banding ke Vietnam Nasionak University (VNU) di Hanooii.

Saya berkunjung ke sana  beberapa tahun lalu dan melihat VNU  sangat serius merawat sejarah institusinya. Mereka menampilkan perjalanan kelembagaannya sejak University of Indochina tahun 1906 → Vietnam National University 1945 → University of Hanoi 1956 → VNU 1993. Bahkan gedung lama di 19 Le Thanh Tong yang merupakan bekas pusat University of Indochina menjadi salah satu ikon sejarah VNU (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

9 + 1 = ?
Berita Terkait