Mengkaji Tantangan Globalisasi, Modernisasi, dan Perubahan Sosial. Budaya Populer dan Tantangan bagi Adat Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 09 Aug 2026 18:09 Admin NA
Mengkaji Tantangan Globalisasi, Modernisasi, dan Perubahan Sosial. Budaya Populer dan Tantangan bagi Adat Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman, saudara-saudaraku sei-Bumi Ruwa Jurai. Malam ini, izinkanlah saya, sebagai seorang penyimbang yang telah menyaksikan sendiri bagaimana zaman bergulir dari masa ke masa, bercerita di beranda sederhana ini. 
Angin malam dari arah Bukit Barisan mengingatkan saya pada sebuah kisah dari Kampung Gunung Sugih, di tanah Lampung Tengah, tempat marga Unyi berdiri kokoh sejak zaman dahulu dan menjadi saksi bisu perjalanan generasi.
Di kampung itu, hiduplah seorang gadis bernama Muli Sari. Ia adalah keturunan dari marga Unyi, salah satu marga tertua yang tercatat dalam silsilah adat Pepadun. Menurut cerita turun-temurun, marga Unyi adalah keturunan dari para penyimbang yang membawa ajaran Kitab Kuntara Raja Niti dari tanah Jawa ke Lampung pada abad ke-15. 
Nenek moyang mereka dikenal sebagai orang-orang yang bijaksana, terbuka terhadap perubahan, namun tetap teguh memegang nilai-nilai adat. Muli Sari adalah anak tunggal dari Dalom Pangeran Karta dan istrinya, dan sejak kecil, ia sangat dimanjakan oleh orang tuanya.
Sejak duduk di bangku sekolah menengah, Muli Sari sangat menggemari budaya populer dari Korea. Ia hafal lagu-lagu K-pop, mengikuti gaya berpakaian idolanya, dan menghabiskan waktu berjam-jam di media sosial untuk mengikuti setiap perkembangan artis kesukaannya. Kamarnya dipenuhi dengan poster idola Korea, dan ia lebih bangga memakai pakaian ala Korea daripada mengenakan pakaian adat Lampung. 
Teman-temannya memanggilnya dengan nama panggilan ala Korea, "Sari-ya," dan ia merasa lebih keren dengan sebutan itu. Hatinya mulai jauh dari kampung halaman, dan ia mulai menganggap adat istiadat sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan dengan kehidupannya.

Suatu hari, kampung itu menggelar upacara Cangget Agung, sebuah perayaan adat yang sakral yang hanya digelar setahun sekali. Semua warga diwajibkan mengenakan pakaian adat, dan para pemuda diharapkan ikut menari dalam tarian Cangget yang penuh makna. 
Muli Sari datang dengan enggan, memakai kebaya dan kain tapis dengan wajah cemberut. Sepanjang acara, ia lebih memilih bermain ponsel di sudut balai adat daripada mengikuti tarian atau mendengarkan petuah dari para tetua. Ketika teman-temannya mengajak menari, ia menolak dengan alasan malu dan tidak bisa.
Seorang tetua kampung, Paksi Marga, penyimbang dari Kebandakhan Makhga Way Lima, memperhatikan sikap Muli Sari. Dengan langkah pelan dan penuh wibawa, beliau mendekati gadis itu. Dengan suara lembut namun tegas, beliau berkata, "Nak Muli Sari, kau tahu petuah dari Kitab Kuntara Raja Niti yang menjadi pedoman hidup kita selama ratusan tahun? 
Petuah itu berbunyi: 'Jelma mak ngelappuk pesenggiri, hina mulia kehitung, wat liom ghega dighi.'
"Artinya, manusia yang tidak memiliki Pi'il Pesenggiri tidak akan tahu mana hina dan mana mulia, karena kemuliaan dan kehinaan diperhitungkan dengan memiliki rasa malu dan harga diri." Muli Sari terdiam. Sang penyimbang melanjutkan, "Kau mungkin bisa menyanyikan semua lagu Korea, tetapi bisakah kau menyanyikan lagu Cangget yang menjadi warisan leluhurmu? Kau mungkin bisa meniru gaya berpakaian idola Korea, tetapi apakah kau tahu makna di balik kain tapis yang kau pakai? Kampung halamanmu adalah identitasmu, Nak. Jangan biarkan budaya orang lain menghapuskan budaya kita sendiri."

Kisah Muli Sari ini adalah cerminan dari tantangan besar yang kita hadapi di era budaya populer global. Arus budaya dari luar, seperti musik K-pop, film, fashion, dan gaya hidup modern, telah membanjiri ruang kehidupan generasi muda kita. Media sosial menjadi saluran utama yang membuat mereka lebih akrab dengan tren global daripada dengan adat dan ritual lokal. 
Survei menunjukkan bahwa generasi muda di Lampung menghabiskan rata-rata 4-5 jam per hari di media sosial, dan sebagian besar konten yang mereka konsumsi adalah konten dari luar negeri, terutama dari Korea, Jepang, dan Amerika. Banyak di antara mereka yang menganggap adat istiadat sebagai sesuatu yang kuno, rumit, dan tidak relevan dengan kehidupan masa kini.
Jika dibiarkan, budaya populer yang bersifat individualistis, efisien, dan konsumtif ini akan menggerus nilai-nilai luhur kita yang telah diwariskan turun-temurun. Nemui Nyimah yang mengajarkan keramahtamahan dan saling memberi, mulai tergerus oleh sikap individualistis dan egois. Generasi muda lebih sibuk dengan dunia maya daripada menyapa tetangga di dunia nyata. Nengah Nyappur yang mengajarkan keterbukaan dan toleransi, mulai pudar karena generasi muda lebih nyaman dengan dunianya sendiri di layar ponsel, enggan berinteraksi dengan orang yang berbeda pandangan. Sakai Sambayan yang mengajarkan gotong-royong, mulai ditinggalkan karena budaya instan dan serba cepat lebih menggiurkan daripada kerja keras bersama.
Namun, bukan berarti kita harus menolak budaya populer secara mentah-mentah. Budaya populer juga bisa menjadi peluang jika kita bijak menyikapinya. Kita bisa memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk memperkenalkan adat Lampung kepada generasi muda dengan cara yang menarik dan kekinian.

Banyak komunitas adat yang mulai mendokumentasikan ritual adat secara digital, membuat konten edukatif tentang budaya Lampung dalam bentuk video pendek yang mudah dicerna, dan menyelenggarakan festival budaya lokal yang dikemas secara modern dengan sentuhan teknologi. 
Di Kampung Gunung Sugih, misalnya, para pemuda kini mulai membuat konten TikTok tentang tarian Cangget dan sejarah marga Unyi, dan hasilnya cukup menggembirakan: banyak anak muda yang mulai tertarik dan bangga dengan budaya mereka sendiri.
Di sinilah peran penting Pi'il Pesenggiri sebagai penyeimbang. Falsafah hidup orang Lampung yang terdiri dari lima nilai ini mengajarkan kita untuk tetap berpegang pada jati diri di tengah arus perubahan. Juluk-Adok mengajarkan bahwa gelar kehormatan yang kita sandang harus dijaga dengan perilaku baik, bukan dengan mengikuti tren yang kosong. 
Nemui Nyimah mengajarkan kita untuk tetap ramah dan murah hati, tidak pelit dan tidak sombong seperti yang sering digambarkan dalam budaya populer. Nengah Nyappur mengajarkan kita untuk tetap terbuka dan toleran, tetapi tidak kehilangan jati diri. Dan Sakai Sambayan mengajarkan kita untuk tetap gotong-royong dan tidak individualistis. Ini semua adalah nilai-nilai yang justru sangat dibutuhkan di tengah budaya populer yang seringkali melunturkan solidaritas sosial dan membuat orang semakin terisolasi.

Nilai-nilai luhur ini juga sejalan dengan ajaran Islam yang kita anut. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 yang artinya, "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa."

Ayat ini turun sebagai bimbingan agar manusia saling menghormati dan mengenal satu sama lain, bukan saling meniru dan menghilangkan identitas. Budaya populer yang membuat kita lupa pada identitas dan nilai-nilai agama, justru akan menjauhkan kita dari kemuliaan sejati di sisi Allah SWT. Islam mengajarkan umatnya untuk mengambil yang baik dari budaya lain dan meninggalkan yang buruk, sebagaimana prinsip "ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk" yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Sejalan dengan itu, Pancasila sila ketiga, Persatuan Indonesia, mengajarkan kita untuk tetap bersatu di tengah keberagaman. Nengah Nyappur dan Nemui Nyimah adalah wujud nyata dari persatuan, karena dengan terbuka dan ramah, kita bisa menerima perbedaan dan hidup berdampingan dengan damai. Sila kelima, Keadilan Sosial, mengajarkan kita untuk saling tolong-menolong, yang merupakan inti dari Sakai Sambayan. Dalam konteks budaya populer, Pancasila mengajarkan kita untuk menjadi bangsa yang terbuka terhadap pengaruh asing, tetapi tetap memiliki kepribadian dan jati diri yang kuat.
Maka, marilah kita menjadi seperti pohon bambu yang kokoh: akarnya tertancap kuat di tanah adat, tetapi daunnya menjulang tinggi, menyentuh langit modernisasi. Jangan biarkan budaya populer menggantikan kearifan, tetapi gunakan budaya populer sebagai alat untuk menyebarkan kearifan. Ajari anak-anak kita untuk bangga menjadi orang Lampung, untuk mengenal silsilah marga mereka, untuk bisa menulis aksara Lampung, dan untuk memahami makna di balik setiap upacara adat. Sebagaimana petuah yang sering diucapkan oleh Dalom Putekha Jaya Makhga: "Induk ayam dikenal dari telurnya, induk harimau dikenal dari belangnya, dan manusia dikenal dari budi pekertinya." Tabik pun.

Daftar Pustaka:
1. Penerapan Nilai Piil Pesenggiri bagi Generasi Muda di Era Globalisasi Ditinjau dari Perspektif Sosiologi Hukum. (Garuda Kemdiktisaintek, 2025)
2. Bahagianda, M.M. (2025). Sejarah Penyimbang dalam Tradisi Sai Batin dan Pepadun: Seri 1: Asal Usul dan Filosofi Gelar Penyimbang. Pemerintah Provinsi Lampung.
3. Piil Pesenggiri. Wikipedia Bahasa Indonesia.
4. Utami, A.D.I., Warto, & Sariyatun. (2019). Penguatan Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Sejarah Berbasis Kitab Kuntara Raja Niti. Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya, 13(2).
5. Rahmadani, N., & Nazhira, S. (2023). Pengaruh Musik Korea terhadap Gaya Hidup Mahasiswa di Lampung. J-Simbol: Jurnal Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 11(2).
6. Transformasi Makna dan Praktik Ritual Tradisional Lampung di Era Modern. Jurnal Al-Ufuq, 2025.
7. Piil Pesenggiri, Pedoman Hidup Masyarakat Lampung yang Masih Melekat. Detik.com, 2024.
8. Nilai-Nilai Ke-Islaman dalam Laku Masyarakat Lampung pada Kitab Kuntara Raja Niti. (Garuda Kemdiktisaintek, 2020).
9. Hadikusuma, H. (1990). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
10. Bahagianda, M.M. (2026). Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 6: Budaya Populer dan Adat. Natar Agung.
11. Al-Qur'an dan Terjemahnya. (Surah Al-Hujurat: 13).

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

9 + 4 = ?
Berita Terkait