Memahami Identitas, Sejarah, dan Nilai Dasar Adat Lampung. Piil Pesenggiri, Filosofi Kehidupan Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca yang saya hormati. Kembali lagi kita duduk di beranda ini, kali ini untuk menyelami jantung dari seluruh falsafah hidup orang Lampung: Piil Pesenggiri.
Jika sebelumnya kita berbicara tentang dua pilar adat, maka sekarang kita akan mengupas apa yang menyatukan keduanya, apa yang menjadi nadi dari setiap denyut kehidupan masyarakat Lampung dari pesisir hingga pedalaman. Mari kita mulai dengan sebuah cerita yang saya dengar dari seorang Punyimbang di kampung Bumi Dipasena.
Di tepian Way Rarem, pada masa silam yang diselimuti kabut legenda, hiduplah seorang pemuda bernama Ratu Darah Putih. Ia bukanlah bangsawan dari marga manapun, melainkan anak yatim piatu yang hidup dari berburu dan meramu. Suatu hari, saat menyusuri sungai, ia menemukan sebilah keris pusaka berhulu emas tersangkut di akar pohon Tembesu. Daripada menjualnya, ia justru berusaha menemukan pemiliknya. Pencariannya yang gigih membawanya ke hadapan Ratu Puncak Dalom, seorang pemimpin adat dari marga Punyimbang yang sedang berduka atas kehilangan pusaka leluhurnya.
Ratu Darah Putih tidak serta merta menyerahkan keris. Dengan tubuh membungkuk hormat, ia berkata, "Ampun beribu ampun, Tuanku. Hamba menemukan benda ini. Namun, hamba harus memastikan ia kembali ke tangan yang tepat. Dapatkah Tuan menyebutkan ukiran dan rahasia yang terpatri pada sarungnya?"
Ratu Puncak Dalom, alih-alih marah, tersenyum kagum. Ia pun merinci setiap detail keris dengan sempurna. Ratu Darah Putih lalu menyerahkan keris itu, bukan dengan gestur hamba, tetapi dengan cara seorang yang memuliakan martabat kedua belah pihak: berlutut sebelah, menundukkan kepala, dan menyembahkan keris dengan kedua tangan.
Ratu Puncak Dalom terpukau. Bukan pada kerisnya, tetapi pada sikap pemuda itu. "Piil pesenggiri-nya sungguh luhur," ujarnya. Ia kemudian mengangkat Ratu Darah Putih sebagai anak dan menempatkannya dalam silsilah marga, bukan karena keturunan, tetapi karena integritas dan keluhuran pekertinya.
Legenda ini, yang terpateri dalam Kuntara Raja Niti, menjadi fondasi alegoris dari filosofi tertinggi masyarakat Lampung: Piil Pesenggiri.
Kisah Ratu Darah Putih bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Ia adalah metafora yang powerful tentang inti dari Piil Pesenggiri. Seringkali, falsafah ini disalahartikan sebagai sekadar gengsi belaka. Padahal, Piil Pesenggiri adalah sebuah konsep yang multidimensional dan kompleks. Secara harfiah, ia memang berarti "harga diri", tetapi maknanya jauh lebih dalam dari itu. Ia adalah landasan berpikir, bertindak, dan berperilaku ideal manusia Lampung dimanapun berada.
Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, sebuah naskah kuno yang menjadi pedoman bagi para tetua adat dan bangsawan dalam menjalankan kebijaksanaannya, Piil Pesenggiri didefinisikan sebagai jemma yang piil pesenggiri, agung jama, bejuluk beadek, nemui nyimah, nengah nyappur, sakai sambayan. Ini berarti "orang yang berpiil pesenggiri adalah yang memiliki martabat besar, berjuluk beradat, terbuka dan ramah, mampu berbaur, dan gotong royong". Setiap frasa adalah sebuah tiang penyangga dalam membangun karakter individu dan masyarakat.
Piil Pesenggiri kemudian terurai dalam empat pilar utama yang menjadi pedoman hidup sehari-hari.
Mari kita telaah satu per satu, sebagaimana diajarkan oleh para tetua.
Pertama, Bejuluk Beadek atau Juluk-Adok. Ini adalah tentang memiliki nama dan gelar kehormatan. Juluk adalah nama baru yang diberikan ketika seseorang dirasa mampu menggapai cita-cita, sedangkan adek adalah gelar yang diberikan ketika cita-cita tersebut telah tercapai.
Dalam konteks yang lebih luas, ini bukan sekadar tentang kebanggaan, tetapi tentang identitas dan tanggung jawab. Seseorang yang telah menyandang gelar adat dituntut untuk menjadi teladan, berperilaku terpuji, dan menjaga nama baik keluarganya.
Ini mengajarkan kita untuk terus berjuang meningkatkan kualitas diri, sejalan dengan firman Allah dalam Surat Ar-Rad ayat 11:
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنۡۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَمِنۡ خَلۡفِهٖ يَحۡفَظُوۡنَهٗ مِنۡ اَمۡرِ اللّٰهِؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِهِمۡؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوۡمٍ سُوۡۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمۡ مِّنۡ دُوۡنِهٖ مِنۡ وَّالٍ
Lahuu mu'aqqibaatum mim baini yadaihi wa min khalfihii yahfazuunahuu min amril laah; innal laaha laa yughaiyiru maa biqawmin hattaa yughaiyiruu maa bianfusihim; wa izaaa araadal laahu biqawmin suuu'an falaa maradda lah; wa maa lahum min duunihiiminw waal
"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
Ayat ini turun (asbāb al-nuzūl) sebagai pengingat bahwa perubahan nasib suatu kaum dimulai dari kemauan mereka sendiri untuk berubah, sebuah nilai yang sangat relevan dengan semangat Bejuluk Beadek.
Kedua, Nemui Nyimah. Ini adalah prinsip keramahan dan sikap saling memberi. Nemui berarti tamu, dan nyimah berasal dari kata simah yang artinya santun. Filosofi ini mengajarkan bahwa seorang tamu harus disambut dengan muakhi (penuh ketulusan) meskipun berasal dari suku yang berbeda.
Dalam setiap hajatan, dari pernikahan hingga acara adat Begawi, semangat ini selalu terpancar. Kita diajarkan untuk tidak datang dengan tangan hampa dan menerima dengan lapang dada. Nilai ini sangat selaras dengan ajaran Islam tentang silaturahmi, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: "Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi."
Hadis ini mengajarkan kita bahwa membangun hubungan baik dengan sesama adalah sumber keberkahan, persis seperti yang diajarkan oleh Nemui Nyimah.
Ketiga, Nengah Nyappur. Ini adalah tentang keterbukaan dan kemampuan bersosialisasi. Kata nengah memiliki tiga arti, yaitu kerja keras, berketerampilan, dan bertanding, sedangkan nyappur berarti tenggang rasa. Orang Lampung diajarkan untuk pandai bergaul, bermusyawarah, dan menyelesaikan masalah bersama.
Tidak ada ruang untuk sikap eksklusif, karena kita hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Inilah cermin dari Pancasila, sila ke-4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Sebuah pepatah Lampung kuno berbunyi, "Tandani jemma sai bepiil, sikokh dano tapi nyelip" (Dikenal orang yang berpiil, seperti danau yang jernih beriak). Setiap tindakan kita meninggalkan riak, dan melalui Nengah Nyappur, kita diajarkan untuk menjaga agar riak itu selalu membawa kebaikan.
Keempat, Sakai Sambayan. Ini adalah semangat gotong-royong, tolong-menolong, dan solidaritas. Ini adalah pilar yang paling terlihat dalam keseharian, terutama saat ada pekerjaan berat yang harus diselesaikan bersama, seperti membangun rumah atau mengadakan pesta adat. Semangat ini adalah kekuatan sosial yang luar biasa, mengajarkan kita bahwa beban akan terasa ringan jika dipikul bersama.
Nilai ini sangat selaras dengan sila ke-3 Pancasila, Persatuan Indonesia, dan juga dengan ajaran Islam tentang ukhuwah. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam rasa cinta, kasih sayang, dan saling menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak dapat tidur." Inilah hakikat dari Sakai Sambayan.
Piil Pesenggiri bukanlah sekadar konsep abstrak. Ia terkodifikasi dan tertuang dalam kitab Kuntara Raja Niti di Lampung dan Kuntara Raja Asa di Komering. Kitab ini mengatur kehidupan sosial kemasyarakatan rumpun Lampungic di Sumatera Bagian Selatan. Pada Pasal 23 Kitab Kuntara Raja Niti, dinyatakan prinsip Piil Pesenggiri dalam lapisan masyarakat: "Raja piilnya wanita, lemah lembut terhadap masyarakat. Punyimbang piilnya gadis, selalu berupaya mendapatkan kecintaan dan kekaguman masyarakat. Ibu Rumah piilnya bahan makanan dan biaya hidangan. Anak lelaki piilnya berhati-hati dalam bicara. Anak perempuan piilnya menjaga perilaku dan kehormatan".
Kutipan ini menunjukkan bahwa Piil Pesenggiri bukan hanya milik para pemimpin adat, tetapi menjadi tanggung jawab setiap lapisan masyarakat, sesuai dengan peran dan kedudukannya masing-masing. Dalam naskah Koentara Radjaniti juga disebutkan bahwa Piil Pesenggiri melahirkan tata nilai dan norma-norma di lingkungan adat istiadat Lampung, yang terwujud dalam pola tingkah laku dan interaksi antar sesama manusia dan juga dengan alam lingkungannya.
Yang membuat Piil Pesenggiri begitu istimewa adalah keselarasannya dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila. Sebuah studi akademis menunjukkan bahwa setiap prinsip Piil Pesenggiri bergema dalam ajaran Islam: Bejuluk Beadek dengan integritas dan kehormatan, Nemui Nyimah dengan keramahan dan kemurahan hati, Nengah Nyappur dengan harmoni sosial dan keterlibatan masyarakat, dan Sakai Sambayan dengan kerja sama dan saling mendukung.
Dengan menanamkan dan mempertahankan nilai-nilai ini, masyarakat dapat membangun masyarakat yang harmonis dan tangguh, melestarikan identitas budaya sambil memperkayanya dengan kebajikan Islam.
Begitulah, para pembaca yang saya hormati. Piil Pesenggiri adalah warisan luhur yang mengajarkan kita tentang kehormatan, tanggung jawab, dan harga diri. Ia bukanlah konsep yang kaku, melainkan panduan hidup yang fleksibel dan relevan sepanjang masa. Ia mengajarkan kita untuk memiliki visi, tujuan, dan impian yang jelas serta tekad untuk terus berusaha menggapainya.
Sebagai penutup, izinkan saya menyampaikan sebuah petuah dari para tetua: "Piil Pesenggiri bukanlah tentang merasa lebih tinggi dari orang lain, tetapi tentang bagaimana kita menjaga diri agar tidak direndahkan oleh orang lain, dan bagaimana kita memuliakan orang lain tanpa merendahkan diri sendiri." Tabik pun, semoga Allah meridhoi langkah kita semua. <>
Daftar Pustaka:
- Bahagianda, Mohammad Medani, gelar Dalom Putekha Jaya Makhga. "Piil Pesenggiri di Era Digital." Hatipena.com, 2025.
- Bahagianda, Mohammad Medani, gelar Dalom Putekha Jaya Makhga. Adat Istiadat Lampung dan Perkembangannya. Bandar Lampung: Penerbit Universitas Lampung, 1998.
- Bahagianda, Mohammad Medani, gelar Dalom Putekha Jaya Makhga. Mengenal Budaya Lampung. Jakarta: Balai Pustaka, 2003.
- Hadikusuma, H. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju, 1989.
- Naskah kuno Kuntara Raja Niti.
- Naskah kuno Koentara Radjaniti.
- Adnan, M. Piil Pesenggiri: Etika Sosial Masyarakat Lampung. Bandar Lampung: Ladang Kata, 2018.
- Suryadi, dkk. "Nilai-Nilai Kearifan Lokal Piil Pesenggiri sebagai Fondasi Ketahanan Budaya di Lampung." Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 9 (2), 245-256, 2020.
- Hadiati, Eti, dkk. "Manifesting the Qur'an and Hadith Through Pi'il Pesenggiri: Local Wisdom For Islamic Community Development." RADEN INTAN: Proceedings on Family and Humanity, Vol. 2, No. 2, 2025.
- Al-Qur'an dan Terjemahnya. Surat Ar-Rad ayat 11.
- Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim tentang silaturahmi dan perumpamaan tubuh kaum mukmin.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar