Legundi, Krakatau, dan Jejak Dagang yang Terlupakan

BANDAR LAMPUNG 08 Sep 2026 21:37 Admin NA
Legundi, Krakatau, dan Jejak Dagang yang Terlupakan

Oleh: M. Habib Purnomo.
Aktivis NU Lampung, Tinggal di Bandar Lampung

nataragung.id - Bandar Lampung - Bagi wisatawan petualang laut, rasanya ada yang kurang jika ke Lampung tapi belum menjelajahi Pulau Legundi. Pulau kecil di Kecamatan Punduh Pidada, Kabupaten Pesawaran ini, diam-diam menyimpan sejarah panjang yang terhubung langsung dengan Gunung Anak Krakatau.

Jika dari arah Kalianda kita mengenal Pulau Sebesi sebagai pulau terdekat dengan Krakatau, maka dari arah Bandar Lampung ada Legundi. Jaraknya tidak jauh dari pusat aktivitas vulkanik itu. Dan justru kedekatan itulah yang membuat Legundi menarik: indah, strategis, sekaligus menyimpan tanda tanya besar tentang sejarah.

Pos Dagang Inggris 4 Abad Lalu

Menariknya, banyak penduduk Legundi hari ini memiliki rumah di gudang-gudang agen Teluk Betung. Empat abad lalu, pulau ini pernah menjadi pos dagang Inggris.

Sebelum kolonialisme mencapai puncaknya, persaingan Inggris dan Belanda di Nusantara sangat keras. Keduanya berebut wilayah penghasil rempah-rempah. Portugis yang sudah menguasai Malaka sempat gagal masuk ke Sunda Kelapa setelah diserbu Fatahillah dari Demak-Cirebon. Sejak itu suara Portugis meredup dalam perebutan rempah.

Rivalitas Inggris-Belanda bahkan sampai ke ranah politik dan militer. Salah satu contohnya ketika Sultan Agung Mataram menyewa kapal Inggris bernama _Reformation_ untuk memberangkatkan calon jamaah haji. Kapal itu dicegat Belanda di Kepulauan Seribu. Para jamaah diturunkan dan dikurung di Batavia.

Mendengar itu, Sultan Agung murka. Duta Besar VOC di Mataram dilempar ke kolam buaya. Pasukan Mataram dua kali menyerbu Batavia pada 1628 dan 1629.

Versi Belanda menyebut serangan itu gagal. Tapi ada fakta lain: Gubernur Jenderal JP Coen, gubernur jenderal paling legendaris Belanda, tewas saat itu. Belanda menyebut ia sakit. Sementara sumber tradisional Mataram mengklaim Coen tewas di tangan pasukan Mataram.

Mengapa Inggris Memilih Legundi?

Setelah Belanda berhasil masuk ke Pelabuhan Karangantu, Kesultanan Banten pada 1596, Inggris tidak mau kalah. Mereka mencari titik kumpul rempah yang dekat dengan Banten. Awal 1600-an, Inggris menemukan Pulau Legundi.

Posisinya sangat strategis. Legundi berada di jalur rempah dari Aceh - Padang - Banten. Pulau ini juga bisa menampung lada, cengkeh, dan komoditas lain dari Kalianda, Krui, Kota Agung, hingga Teluk Betung. Pantainya dalam dan bisa disinggahi kapal-kapal besar.

Keberhasilan Inggris mendirikan pos dagang di Legundi membuat Belanda pusing. Pos mereka di Banten jadi tidak sendirian.

Namun menurut sejarawan Belanda, De Graaf, pos dagang Inggris di Legundi akhirnya tutup. Bukan karena perang, melainkan karena serangan nyamuk malaria yang menyerang para petugasnya. Hingga kini, malaria masih menjadi ancaman bagi penduduk Legundi.

Hidup di Bayang-Bayang Krakatau

Bagi masyarakat Legundi, mendengar Gunung Krakatau "batuk" sudah hal biasa. Kadang terdengar seperti pertanda hujan, padahal musim kemarau.

Penduduk Legundi yang ada sekarang kemungkinan besar adalah keturunan pendatang setelah letusan dahsyat Krakatau 1883. Penduduk lama diperkirakan tewas tersapu tsunami saat itu.

Secara budaya, masyarakat Legundi unik. Yang bersuku Lampung bisa berbahasa Banten. Sebaliknya, orang Banten di sana juga fasih berbahasa Lampung. Ini bukti bahwa Selat Sunda sejak dulu adalah ruang pertemuan, bukan pemisah.

Ketika Inggris menjadikan Legundi sebagai pos dagang seperti Singapura di masa lalu, apakah mereka tidak tahu potensi bahaya Gunung Krakatau?

Seberapa tinggi "induk" Gunung Krakatau ketika Inggris membangun pos itu di awal abad ke-17? Apakah benar mereka meninggalkan Legundi hanya karena malaria? Atau jangan-jangan, para pelaut Inggris saat itu sudah "mencium" adanya ancaman besar dari gunung api di dekatnya?

Jawabannya perlu dicari. Bukan hanya dari arsip Belanda, tapi juga dari dokumen Kesultanan Banten dan catatan pihak Inggris sendiri.

Hari ini Pulau Legundi bisa menjadi lebih dari sekadar destinasi wisata petualangan. Ia adalah ruang sejarah hidup. Tempat di mana jejak perdagangan rempah, rivalitas kolonial, letusan gunung, dan budaya pesisir bertemu.

Jika pemerintah dan pegiat sejarah mau menggali lebih dalam, Legundi bisa menjadi "museum terbuka" Selat Sunda. Wisatawan tidak hanya menikmati lautnya, tapi juga belajar bahwa di balik keindahan pulau kecil ini, ada cerita 400 tahun tentang keberanian, persaingan, bencana, dan adaptasi manusia.

Dan selama Krakatau masih aktif, Legundi akan terus mengingatkan kita: alam dan sejarah tidak pernah bisa dipisahkan. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 2 = ?
Berita Terkait