Kita Butuh Semar dan Kresna, Bukan Sengkuni (Renungan 81 Tahun Kemerdekaan RI) Oleh : Gunawan Handoko Mantan aktivis Pemuda, tinggal di Bandar Lampung

ARTIKEL 17 Aug 2026 10:52 Admin NA
Kita Butuh Semar dan Kresna, Bukan Sengkuni (Renungan 81 Tahun Kemerdekaan RI) Oleh : Gunawan Handoko Mantan aktivis Pemuda, tinggal di Bandar Lampung

nataragung.id - Bandar Lampung - DALAM dunia pewayangan, kita mengenal sosok Semar dan Batara Kresna. Meski tidak pernah hidup di alam nyata, kedua tokoh tersebut telah begitu melegenda dan melekat di hati masyarakat sebagai tokoh yang patut ditauladani. Sesungguhnya Semar adalah Dewa yang mengejawantah dan merelakan dirinya menjadi punakawan atau rakyat jelata yang sepanjang hidupnya selalu mengabdi kepada para ksatria. Meski hanya seorang abdi, namun keberadaan Semar sangat diperhitungkan oleh para majikannya. Selain jujur, Semar tidak segan-segan memberikan telaahan dan nasehat kepada para majikannya manakala ada hal-hal yang dipandangnya keliru. Demikian halnya dengan Prabu Kresna. Ia selalu berada di pihak para ksatria dan berperan sebagai penasehat sekaligus pembakar semangat di saat terjadi kegalauan.

Kresna merupakan cermin dari sosok pemimpin yang memiliki sikap ksatria dan selalu berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan. Menjelang pecahnya perang Baratayudha, keluarga Pandawa sempat gamang dan akan memilih untuk mengalah atas hak kepemilikan negeri Astina yang masih dikuasai para Kurawa. Pertimbangannya, kekuatan kubu Kurawa dua puluh kali lipat dibanding Pandawa sehingga diyakini akan banyak ksatria Pandawa yang gugur di medan laga. Namun Kresna dengan gigihnya berhasil mengobarkan kembali semangat para Pandawa untuk bangkit merebut haknya melalui peperangan. Lalu, apa yang diharapkan seorang Kresna dari perang besar tersebut? Tidak ada lain kecuali demi sebuah keadilan, kehormatan, harkat martabat dan harga diri keluarga Pandawa. Dalam konteks perjalanan sejarah bangsa Indonesia, sosok dan figur Kresna banyak dijumpai pada masa pergerakan kemerdekaan.

Sederet nama pejuang telah terukir dalam sejarah, salah satunya adalah gerakan Budi Utomo yang dimotori oleh sekelompok pemuda di tanah Jawa. Kehadiran pergerakan Budi Utomo ini secara spontan mendapat sambutan dari pemuda-pemuda di luar Jawa, karena dinilai mampu mempersatukan berbagai perbedaan yang ada terutama dari sisi agama. Pergerakan Budi Utomo tahun 1908 inilah sebagai kunci awal pergerakan pemuda dan sebagai embrio lahirnya Sumpah Pemuda 1928 dengan ikrar bertanah air satu, berbangsa satu dan berbahasa satu, Indonesia. Dengan dilandasi semangat inilah kekuatan untuk merebut kemerdekaan semakin menggelora hingga mencapai klimak pada tahun 1945. Bila kita menengok sejarah ke belakang, dari masa sebelum dan sesudah kemerdekaan sampai tahun 70-an, betapa peran pemuda selalu dilihat dengan penuh kesan. Mereka selalu hadir dengan segala kepeloporannya dalam mendobrak berbagai upaya kemapanan ketika lingkungan disekitarnya sedang dilanda krisis.

Bahkan angkatan 1966 disebut-sebut sebagai angkatan yang telah berjasa menendang rezim orde lama. Di awal pemerintahan orde baru, strategi negara yang diterapkan waktu itu adalah menyerap berbagai fungsi penekanan masyarakat melalui pencetakan lembaga-lembaga tunggal perwakilan kepentingan. Contoh, beberapa organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) terserap dan berhimpun ke dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI). Dengan demikian secara struktural para tokoh pemuda terikat menjadi satu dengan pihak Pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah membentuk atau mengakui satuan-satuan organisasi yang diberi monopoli sesuai dengan katagori fungsionalnya masing-masing, dengan imbalan bahwa pemerintah memiliki wewenang dan berhak untuk mengontrol dan mengawasi kegiatan serta artikulasi tuntutan dan dukungan mereka. Strategi pemerintah waktu itu bisa diterima karena pendekatan pembangunan yang dijalankan pemerintah orde baru, baik dalam perencanaan ekonomi maupun sosial didasarkan pada prinsip security.  Penerapan strategi seperti itu terbukti mampu mencegah terjadinya konflik antar kelompok, kelas dan ideologi yang sering terjadi di masa-masa orde lama. Dan yang paling penting lagi, hubungan antara pemerintah dengan masyarakat, khususnya generasi muda lebih bersifat kerjasama yang harmonis. Sayangnya, dengan adanya kebijakan tersebut persoalannya menjadi lain. KNPI di masa itu lebih banyak menyuarakan suara pemerintah kepada masyarakat ketimbang merefleksikan suara masyarakat untuk diteruskan kepada pemerintah. Dengan kata lain, keberadaan KNPI selalu menjadi corongnya pemerintah. Meski demikian, pembinaan pemerintah terhadap kaum muda masih sangat jelas, khususnya dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan, cinta Tanah Air dan bela negara serta kewaspadaan nasional. Bahkan pemerintah secara rutin menganggarkan biaya melalui APBN maupun APBD untuk program itu.

Bagaimana keberadaan organisasi pemuda di era reformasi sekarang? Saya merasa tidak perlu untuk berkomentar karena semua pihak sudah tahu jawabnya. Banyak pihak selalu mewanti-wanti agar orde lama dan orde baru tidak boleh terulang lagi di era reformasi. Pendapat seperti itu tidak sepenuhnya benar, karena tidak semua produk orde masa lalu itu jelek alias haram untuk dilanjutkan. Harus disadari bahwa pembinaan generasi muda terhadap pemahaman nilai-nilai kebangsaan dan bela negara perlu dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan. Kita tidak perlu malu untuk meneruskan kebijakan yang ditinggalkan oleh orde baru sepanjang itu bermanfaat khususnya bagi kaum muda. Kita jangan dulu bermimpi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 tanpa adanya persatuan dan semangat kebangsaan kaum muda. Jujur harus diakui bahwa semangat kebangsaan dan nasionalisme masyarakat Indonesia  khususnya generasi muda - telah mengalami penurunan. Kita sudah kehilangan semangat persatuan dan kesatuan serta rasa kesetiakawanan sosial yang merupakan pondasi utama dalam mewujudkan kebangkitan nasional. Satu contoh saja, setiap kali pemerintah berencana menaikkan harga BBM, serempak di semua daerah terjadi kelangkaan BBM. Muncul pertanyaan, pihak mana sesungguhnya yang melakukan penimbunan BBM sehingga demikian sulitnya aparat keamanan dan penegak hukum untuk mengungkapnya? Dimana hati nurani bersemayam, sehingga tega menyaksikan jutaan rakyat tersiksa hanya sekedar untuk memperoleh BBM. Bukankah ini sudah cukup sebagai bukti bahwa kesetiakawanan dan solidaritas sosial telah hilang dari sebuah negeri bernama Indonesia? Jika pemerintah enggan untuk mengevaluasi dan membiarkan kondisi seperti ini terus berlangsung, maka dapat diyakini bahwa kebangkitan nasional menuju Indonesia Emas hanya sebatas iklan, setelah itu mati. Maka ke depan kita masih membutuhkan sosok Kresna untuk memimpin negeri ini, yakni pemimpin yang mampu untuk mengembalikan jati diri bangsa yang telah dirintis para pejuang kemerdekaan tempo dulu tanpa harus mengesampingkan semangat reformasi. Kita butuh pemimpin yang mampu dan mau untuk membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan serta kesetiakawanan sosial. Memang, mencari pemimpin sama susahnya dengan menjawab makam pertanyaan dari mana pemimpin itu muncul? Ada pandangan yang mengatakan bahwa pemimpin dapat dimunculkan lewat pendidikan. Maka baru-baru ini pemerintah mendirikan perguruan tinggi khusus calon pemimpin. Pandangan tersebut nampaknya tidak sepenuhnya benar.

Apakah kelak mereka akan memimpin dengan cara textbook atau ilmiah, sehingga bila menghadapi masalah di depan massa ia akan membuka-buka dulu buku tebalnya, atau bagaimana? Sulit dipahami. Belajar dari perjalanan sejarah, pemimpin tidak bisa dicetak sebagaimana kita mencetak kue, melainkan dilahirkan. Dengan kata lain, pemimpin itu merupakan potret berfungsinya sebuah bakat alam. Pemimpin yang dipaksakan atau dikarbit hanya akan membuahkan kekecewaan, karena mereka tidak paham akan tugas yang diembannya. Karena itu, lebih baik pemimpin yang lahir secara alamiah dari bakat, lalu dimatangkan oleh pergulatan hidup. Yang diharapkan saat ini adalah pemimpin yang tidak saja cerdas dan ilmiah, namun juga harus memiliki sikap. Banyak orang yang memiliki otak cemerlang, banyak juga orang yang istimewa. Namun, manusia hanya akan kagum manakala orang tersebut memiliki sikap, komitmennya jelas, suara moralnya tegas dan pemihakan hidupnya terhadap nilai-nilai tidak diragukan. Sikap itulah yang paling mahal di zaman sekarang. Dalam dunia pewayangan, itulah Kresna.
Dirgahayu 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia!!! (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 6 = ?
Berita Terkait