Khutbah Jum'at: Agar Supaya Harta Tidak Hanya Beredar di Kalangan Orang Kaya. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Setiap hari kita menyaksikan kehidupan yang penuh dengan perbedaan. Ada orang yang memiliki rumah besar, kendaraan mewah, dan harta yang berlimpah. Namun, ada pula keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada orang yang membuang makanan karena berlebihan, sementara di tempat lain ada anak yang tidur dalam keadaan lapar. Berkaitan hal tersebut, In Syaa Allah hari ini, khatib akan membacakan Khutbah yang berjudul: "Agar Supaya Harta Tidak Hanya Beredar di Kalangan Orang Kaya."
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَحَثَّنَا عَلَى التَّكَافُلِ وَالتَّرَاحُمِ بَيْنَنَا، وَنَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُحْصَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Alhamdu lillāhilladzī amaranā bil-'adli wal-iḥsān, wa ḥatstsanā 'alat-takāfuli wat-tarāḥumi bainanā, wa naḥmaduhū subḥānahū wa nasykuruhū 'alā ni'amihil-latī lā tuḥṣā. Wa asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan 'abduhū wa rasūluh.
Allāhumma shalli wa sallim 'alā nabiyyinā Muḥammad, wa 'alā ālihī wa shaḥbihī ajma'īn.
Artinya:
Segala puji bagi Allah yang memerintahkan kita berlaku adil dan berbuat ihsan, serta mendorong kita untuk saling membantu dan menyayangi. Kita memuji dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat-Nya yang tidak terhitung. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Ya Allah, limpahkanlah selawat dan salam kepada Nabi kami Muhammad, keluarga, dan seluruh sahabatnya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya terlihat dalam ibadah kita di masjid, tetapi juga dalam cara kita mencari nafkah, mengelola kekayaan, dan memperlakukan sesama manusia.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Setiap hari kita menyaksikan kehidupan yang penuh dengan perbedaan. Ada orang yang memiliki rumah besar, kendaraan mewah, dan harta yang berlimpah. Namun, ada pula keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada orang yang membuang makanan karena berlebihan, sementara di tempat lain ada anak yang tidur dalam keadaan lapar.
Mengapa keadaan seperti ini bisa terjadi?
Tentu, kemiskinan memiliki banyak sebab. Ada persoalan pendidikan, kesempatan kerja, kesehatan, dan keadaan hidup yang tidak selalu mudah diatasi. Namun, salah satu hal yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kekayaan dikelola dan bagaimana kita memperlakukan orang-orang yang membutuhkan.
Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya. Islam tidak mengharamkan seseorang memiliki perusahaan, tanah, kendaraan, atau harta yang banyak selama diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan sesuai ketentuan Allah.
Akan tetapi, Islam mengajarkan bahwa kekayaan bukan hanya tentang hak untuk memiliki, melainkan juga tanggung jawab untuk berbuat baik.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 7:
كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ
Kay lā yakūna dūlatan bainal-agniyā'i minkum.
"Agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu." (QS. Al-Hasyr: 7)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Ayat ini berbicara tentang pembagian harta fai' dalam ketentuan yang Allah tetapkan. Dari ayat tersebut, kita juga dapat mengambil pelajaran penting tentang perhatian Islam terhadap distribusi kekayaan dan kesejahteraan masyarakat.
Islam tidak menghendaki kehidupan sosial yang membiarkan kekayaan hanya berputar di antara segelintir orang, sementara kelompok yang lemah tidak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya.
Harta seharusnya menjadi sarana kebaikan, bukan tembok yang memisahkan orang kaya dari orang miskin.
Bayangkan, jika seorang pengusaha membuka usaha, lalu puluhan orang mendapatkan pekerjaan. Jika seseorang memiliki modal dan membantu pedagang kecil mengembangkan usahanya. Jika orang yang memiliki kelebihan harta membantu biaya pendidikan anak yatim atau meringankan beban keluarga yang sedang kesulitan.
Betapa banyak kehidupan yang dapat berubah karena harta digunakan dengan penuh tanggung jawab!
Karena itu, kekayaan tidak seharusnya membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebab, orang yang kaya hari ini belum tentu kaya selamanya. Orang yang kuat hari ini suatu saat mungkin membutuhkan pertolongan. Dan orang yang sedang kesulitan hari ini bisa jadi kelak menjadi orang yang mampu membantu banyak orang.
Harta adalah titipan Allah. Jangan sampai titipan itu membuat kita lupa kepada Pemberinya dan menutup mata terhadap hamba-hamba-Nya yang membutuhkan pertolongan.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Bagaimana cara kita mewujudkan ajaran ini dalam kehidupan sehari-hari?
Pertama, carilah harta dengan cara yang halal.
Jangan mengejar kekayaan dengan menipu, berbuat curang, mengambil hak orang lain, atau melakukan riba. Kekayaan yang diperoleh dengan cara haram tidak akan membawa keberkahan, sekalipun jumlahnya terlihat besar.
Kedua, tunaikan zakat dan jangan meremehkan sedekah.
Zakat merupakan kewajiban bagi Muslim yang memenuhi syarat. Adapun sedekah adalah jalan kebaikan yang dapat dilakukan sesuai kemampuan. Jangan menunggu kaya raya untuk mulai berbagi. Sebab, kepedulian tidak selalu diukur dari besarnya pemberian.
Allah berfirman dalam Surah Ali 'Imran ayat 92:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
Lan tanālul-birra ḥattā tunfiqū mimmā tuḥibbūn.
"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai." (QS. Ali 'Imran: 92)
Ayat ini mengajarkan bahwa kebaikan membutuhkan keikhlasan. Kita tidak cukup hanya memberikan sesuatu yang tidak lagi kita butuhkan, tetapi hendaknya belajar berbagi dari apa yang kita cintai demi mengharap keridaan Allah.
Ketiga, jadikan kekayaan sebagai jalan membuka kesempatan bagi orang lain.
Jika kita memiliki usaha, berikan kesempatan kerja dengan upah yang adil. Jika kita mempunyai kemampuan, bantulah orang lain meningkatkan keterampilannya. Jika kita memiliki kelebihan rezeki, bantulah keluarga miskin, anak yatim, dan orang-orang yang sedang mengalami kesulitan.
Jangan hanya memberi bantuan untuk hari ini jika kita juga mampu membantu seseorang membangun kehidupan yang lebih baik untuk masa depan.
Namun, jangan pula kita melupakan orang yang tidak mampu bekerja karena sakit, lanjut usia, atau keadaan lain. Mereka tetap berhak mendapatkan perhatian dan pertolongan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
Wallāhu fī 'aunil-'abdi mā kānal-'abdu fī 'auni akhīh.
"Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya." (HR. Muslim)
Hadis ini mengingatkan kita bahwa menolong sesama bukanlah perbuatan yang sia-sia. Ketika kita meringankan beban orang lain karena Allah, kita sedang menempuh jalan kebaikan yang dicintai-Nya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,
Janganlah kita hanya sibuk menghitung berapa banyak harta yang telah kita kumpulkan, tetapi lupa menghitung berapa banyak orang yang pernah kita bantu.
Jangan sampai rumah kita penuh dengan barang berharga, sementara hati kita kosong dari kepedulian.
Jangan sampai kita memohon keberkahan rezeki, tetapi enggan berbagi dengan orang yang sedang kesulitan.
Ingatlah, harta yang hanya berhenti di tangan kita pada akhirnya akan kita tinggalkan. Namun, harta yang digunakan untuk kebaikan dapat menjadi amal saleh yang pahalanya terus mengalir sesuai dengan kehendak Allah.
Jadilah orang kaya yang membawa manfaat, bukan sekadar orang kaya yang menumpuk harta. Jadilah sungai yang menghidupi, bukan telaga yang hanya menyimpan air untuk dirinya sendiri.
Semoga Allah menjadikan harta kita halal, hati kita dermawan, dan kehidupan kita bermanfaat bagi sesama.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَأَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Bārakallāhu lī wa lakum fil-Qur'ānil-'aẓīm, wa nafa'anī wa iyyākum bimā fīhi minal-āyāti wadz-dzikril-ḥakīm. Wa aqūlu qaulī hādzā, wa astagfirullāhal-'aẓīma lī wa lakum, fastagfirūh, innahū huwal-gafūrur-raḥīm.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Alhamdu lillāhi ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, kamā yuḥibbu rabbunā wa yardhā. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَنُورُ السَّالِكِينَ، وَوَصِيَّةُ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Uuṣīkum ‘ibādallāh wa nafsī bitaqwāllāh, fa innahā zādal-muttaqīn, wa nūrus-sālikīn, wa waṣiyyatu rasūli rabbil-‘ālamīn. Fattaqullāha ḥaqqa tuqātih, wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا.
Allāhumma ighfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt. Allāhumma ṭahhir qulūbanā, wa aṣliḥ aḥwālanā, wa bārik lanā fī a‘mārinā wa arzāqinā, wa rfa‘il-balā’a ‘annā wa ‘an bilādinā.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَلُزُومَ طَاعَتِكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ.
Allāhumma ij‘alnā min ‘ibādikas-ṣāliḥīn, warzuqnā ṣidqat-tawakkuli ‘alaik, wa ḥusnaẓ-ẓanni bik, wa luzūma ṭā‘atika fis-sirri wal-‘alan. Yā muqallibal-qulūb tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa yā muṣarrifal-qulūb ṣarrif qulūbanā ilā ṭā‘atik.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَاجْعَلْهُمْ رُحَمَاءَ بِالرَّعِيَّةِ، قُوَّامًا بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ.
Allāhumma aṣliḥ wulāta umūrinā, wa waffiqhum limā fīhi ṣalāḥud-dīn wad-dunyā, waj‘alhum ruḥamā’a bir-ra‘iyyah, quwwāman bil-ḥaqqi wal-‘adl.
اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Allāhumma ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirah ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
‘Ibādallāh, innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhil-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy. Ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn. Fa dzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar