Kepercayaan Orang Tua, Kualitas Sekolah, dan Bimbingan Belajar Perspektif Psikologi Terapan

ARTIKEL 04 Sep 2026 14:37 Admin NA
Kepercayaan Orang Tua, Kualitas Sekolah, dan Bimbingan Belajar Perspektif Psikologi Terapan

Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung


nataragung.id - Metro - Fenomena “war” bimbingan belajar (bimbel) yang ramai menjelang tahun ajaran baru menarik untuk dilihat bukan sekadar sebagai tren pendidikan, tetapi juga sebagai fenomena psikologis. Mengapa orang tua merasa perlu memberikan pendidikan tambahan, padahal anak telah memperoleh pendidikan formal di sekolah?. Kemendikdasmen menyatakan bahwa maraknya bimbel tidak otomatis menunjukkan kegagalan sekolah. Bimbel dapat menjadi layanan tambahan untuk memenuhi kebutuhan belajar tertentu. Namun, fenomena ini tetap dapat menjadi sinyal evaluasi terhadap kualitas pembelajaran dan harapan orang tua terhadap sekolah. Berdasarkan perspektif psikologi, keputusan orang tua memilih bimbel berkaitan dengan bagaimana mereka mempersepsikan kualitas sekolah, memperkirakan masa depan anak, serta mengelola kecemasan terhadap persaingan pendidikan.

Kepercayaan Orang Tua kepada Sekolah Berkurang.

Kepercayaan merupakan fondasi penting dalam hubungan antara orang tua dan sekolah. Ketika orang tua merasa pembelajaran di sekolah belum cukup memberikan perhatian, penguasaan materi, atau persiapan akademik yang dibutuhkan anak, muncul dorongan untuk mencari sumber belajar tambahan. Dalam psikologi pendidikan, keterlibatan orang tua (parental involvement) dipandang penting bagi keberhasilan belajar anak. Gubbins dan Otero (2022) menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga merupakan bagian penting dari pengalaman pendidikan anak.

Dalam konteks ini, bimbel dapat menjadi bentuk kompensasi psikologis. Orang tua merasa telah melakukan sesuatu untuk mengurangi risiko anak mengalami kesulitan belajar. Mereka bukan hanya membeli tambahan waktu belajar, tetapi juga memperoleh rasa aman bahwa kebutuhan pendidikan anak telah diupayakan. Namun, keputusan mengikuti bimbel tidak selalu berarti orang tua tidak percaya kepada sekolah. Sebagian orang tua justru memandang bimbel sebagai pelengkap pendidikan formal. Persoalannya muncul ketika bimbel dianggap sebagai satu-satunya cara untuk memastikan anak berhasil.

Kebutuhan Belajar dan Kecemasan Kompetitif.

Pilihan mengikuti bimbel juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Ketika anak-anak lain mengikuti bimbel, mengikuti tryout, atau memperoleh prestasi akademik tertentu, orang tua dapat melakukan perbandingan sosial (social comparison). Festinger (1954), melalui teori perbandingan sosial, menjelaskan bahwa individu cenderung menilai kemampuan dirinya dengan membandingkannya dengan orang lain. Dalam konteks pendidikan, mekanisme ini dapat muncul dalam pikiran orang tua: “Jika anak orang lain ikut bimbel, apakah anak saya akan tertinggal?”. Di sinilah kebutuhan belajar dapat bercampur dengan kecemasan. Bimbel akhirnya tidak hanya dipilih karena anak membutuhkan bantuan akademik, tetapi juga karena orang tua takut anak kalah dalam kompetisi pendidikan.
Promosi lembaga bimbel dapat semakin memperkuat kondisi tersebut melalui narasi tentang sekolah favorit, perguruan tinggi impian, prestasi siswa, dan berbagai bentuk keberhasilan akademik. Akibatnya, pendidikan tambahan dapat berubah dari kebutuhan menjadi simbol kesiapan dan bahkan status sosial. Padahal, pendidikan anak bukanlah perlombaan antarkeluarga. Islam mengingatkan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab terhadap pendidikan keluarganya.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” QS. At-Tahrim: 6. Rasulullah SAW juga bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”. HR. Bukhari dan Muslim. Pesan tersebut menegaskan bahwa tanggung jawab orang tua bukan sekadar menyediakan biaya pendidikan, tetapi juga memahami kebutuhan, kemampuan, dan kondisi psikologis anak.

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa maraknya bimbel semestinya tidak diposisikan sebagai pertarungan antara sekolah formal dan lembaga kursus. Fenomena tersebut justru perlu menjadi bahan refleksi bersama. Sekolah perlu bertanya apakah proses pembelajaran, komunikasi dengan orang tua, dan perhatian terhadap kebutuhan individual siswa sudah cukup membangun kepercayaan. Orang tua juga perlu bertanya Kembali yaitu apakah anak memang membutuhkan bimbel, atau keputusan tersebut lebih banyak didorong oleh kecemasan dan perbandingan dengan anak lain?.  Bimbel dapat menjadi mitra positif ketika digunakan untuk memperkuat kebutuhan belajar anak. Namun, pendidikan tambahan menjadi kurang sehat apabila dibangun di atas ketakutan bahwa anak akan gagal tanpa mengikuti berbagai kursus. Karena itu, persoalan sesungguhnya bukan sekolah versus bimbel, melainkan bagaimana membangun ekosistem pendidikan yang membuat orang tua percaya, anak merasa didukung, dan sekolah mampu menjalankan fungsi pendidikannya secara optimal. Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh berapa banyak les yang diikuti anak, tetapi oleh seberapa baik lingkungan Pendidikan yaitu sekolah, keluarga, dan Masyarakat yang membantu anak berkembang sesuai potensi dan kebutuhannya. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

6 + 1 = ?
Berita Terkait