Di Era Gubernur Mirza, Pemprov Lampung Dorong Konservasi Way Kambas Berbasis Harmoni Manusia dan Gajah

PEMPROV LAMPUNG 02 Sep 2026 05:40 adm@nataragung.id
Di Era Gubernur Mirza, Pemprov Lampung Dorong Konservasi Way Kambas Berbasis Harmoni Manusia dan Gajah

Ada yang perlahan berubah di Taman Nasional Way Kambas (TNWK). Bukan sekadar wajah kawasan konservasi, melainkan cara manusia memandang dan memperlakukan gajah serta permukiman warga yang beririsan dengan kawasan pelestarian flora fauna alam liar. 

Di era kepemimpinan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (Mirza), hubungan manusia dan satwa endemik itu mulai diarahkan pada satu gagasan sederhana: gajah tetap liar dan merdeka, sementara warga di tepian kawasan tetap aman dan sejahtera.

Perubahan itu dilakukan melalui sejumlah pendekatan. Mulai dari mengubah pola hubungan mahot dan gajah, mengembangkan budi daya serai dan lebah di wilayah perbatasan, membangun tanggul perlindungan, hingga menata kembali model wisata berbasis konservasi.

Senin (31/8/2026), Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi kembali menyambangi TNWK. Kunjungan tersebut untuk memastikan kondisi gajah setelah kawasan konservasi itu sempat dilanda kebakaran.

Hasilnya, kabar tentang gajah-gajah yang terdampak kebakaran ternyata tidak seperti yang dikhawatirkan."Karena banyak sekali isu gajah terdampak kebakaran, kami cek ternyata gajah-gajah kita sehat walafiat, aman, senang, tenang, ya. Gajah-gajahnya malah makin gemuk-gemuk," ujar Mirza saat berada di TNWK bersama jajaran Forkopimda Provinsi Lampung.

Dari Rasa Takut Menuju Keakraban

Salah satu perubahan paling mendasar adalah cara mahot berinteraksi dengan gajah. Selama bertahun-tahun, relasi manusia dan gajah dalam pengelolaan konservasi kerap dibangun melalui kendali dan rasa takut. Kini, pendekatan itu mulai digeser.

Para pawang atau mahot akan mendapatkan pelatihan di Elephant Nature Park (ENP), Thailand. Pelatihan tersebut diharapkan melahirkan pola interaksi yang lebih manusiawi dan tidak bertumpu pada kekerasan maupun rantai.

Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengatakan, pendekatan terhadap gajah akan diubah secara bertahap."Nantinya, ada perubahan pendekatan," kata Zaidi.

Menurutnya, hubungan antara mahot dan gajah ke depan tidak lagi dibangun berdasarkan rasa takut. "Kalau dulu pendekatan dengan gajah takut dengan mahot. Nanti, hubungannya harmonis," ujarnya.

Sebab, konservasi bukan hanya tentang menjaga satwa tetap hidup. Lebih dari itu, konservasi adalah tentang belajar memahami bahwa manusia bukan satu-satunya pemilik ruang di alam.

Serai, Lebah dan Harapan Warga

Konflik gajah dan manusia juga coba diredam dari sisi yang berbeda: membuat batas alami sekaligus menciptakan sumber penghasilan baru bagi masyarakat.

Serai dan lebah dipilih untuk dikembangkan di kawasan perbatasan TNWK. Bau serai dan suara koloni lebah diharapkan dapat membantu menjauhkan gajah dari permukiman dan lahan pertanian warga.

Dengan begitu, pagar yang dibangun bukan hanya berupa beton atau tanggul, tetapi juga berupa strategi ekologis yang melibatkan masyarakat.

Hasilnya pun diharapkan tidak berhenti di kawasan konservasi. Warga dapat mengelola usaha tersebut melalui BUMDes sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan langsung.

"Kami sedang memesan mesin untuk penyulingan serai," ujar Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah TNWK Brigjen TNI Sriyanto.

Serai nantinya disuling menjadi minyak atsiri yang dapat digunakan untuk berbagai produk, mulai dari sabun, pengharum hingga aromaterapi.

Untuk budi daya lebah, sebanyak 900 kotak lebah telah diberikan kepada masyarakat di wilayah perbatasan.

"Minggu depan mungkin sudah menjadi 1.500 boks lebah," kata Sriyanto, Selasa (1/9/2026).

Koloni lebah tersebut kini mulai berkembang melalui proses pemecahan koloni.

Bagi masyarakat sekitar TNWK, lebah dan serai bukan sekadar alat untuk menghalau gajah. Keduanya diharapkan menjadi sumber penghidupan baru.

Dengan pola ini, upaya meredam konflik tidak semata-mata bertujuan menjauhkan gajah dari lahan warga. Masyarakat juga diberikan pilihan usaha yang dapat menghasilkan tanpa harus berhadapan langsung dengan satwa liar.

Tanggul Menjadi Benteng Perlindungan

Jika serai dan lebah merupakan pendekatan berbasis masyarakat, sementara pelatihan mahot menyasar perubahan perilaku manusia, TNWK juga menyiapkan perlindungan fisik.

Salah satunya pembangunan tanggul pembatas di jalur keluar-masuk gajah.

Sriyanto mengatakan, pembangunan tanggul menjadi salah satu pekerjaan kritis karena sebagian wilayah memiliki karakter tanah labil dan berbatasan dengan sungai serta daerah aliran sungai.

Pembangunan ditargetkan rampung pada pertengahan September 2026.

Saat ini, progres keseluruhan pembangunan telah mencapai 75,81 persen.

Namun, tanggul hanyalah salah satu bagian dari pekerjaan besar tersebut. Sebab, benteng terbaik bagi konservasi bukan semata-mata tembok yang tinggi, melainkan tata kelola yang mampu membuat manusia dan satwa sama-sama memiliki ruang hidup.

Perubahan juga akan menyentuh wajah wisata TNWK.

Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengatakan, pola interaksi wisatawan dengan gajah akan ditata kembali setelah proses revitalisasi.

"Mungkin nanti kita akan dengan model revitalisasi yang baru, kita akan buat skema model interaksi yang baru. Jadi mungkin tidak lagi seperti dulu," kata Zaidi.

Artinya, wisata gajah ke depan tidak sekadar menghadirkan tontonan. Ada pesan konservasi yang harus dibawa pulang setiap wisatawan: bahwa gajah bukan properti, bukan sekadar atraksi, melainkan satwa liar yang memiliki naluri, ruang dan hak untuk hidup.

Maka, wajah baru TNWK nantinya bukan hanya soal bangunan yang lebih bagus atau fasilitas wisata yang lebih modern. Ada pekerjaan yang jauh lebih dalam: mengubah cara manusia berhadapan dengan gajah, dari saling menghalau menjadi belajar berbagi ruang.

Di sana, barangkali masa depan TNWK menemukan jalannya: gajah tetap menjadi gajah, hutan tetap menjadi rumahnya, dan manusia memperoleh manfaat tanpa harus merampas ruang kehidupan satwa.

Menjaga Hutan, Menjaga Masa Depan

Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengimbau seluruh pihak, termasuk masyarakat, untuk bersama-sama menjaga kelestarian kawasan konservasi dari berbagai ancaman.

Ia mengingatkan agar tidak ada lagi perburuan liar, perambahan maupun pembakaran lahan yang dapat mengancam ekosistem TNWK.

"Sama-sama menjaga Taman Nasional ini. Kita pelihara, tidak ada lagi yang melakukan perburuan liar, tidak ada lagi perambahan, tidak ada lagi yang membakar lahan, sehingga lahan ini bisa sama-sama kita jaga, tidak ada lagi kebakaran," pungkasnya.

Sebab, ketika hutan terjaga, bukan hanya gajah yang punya masa depan. Di sekelilingnya, ada manusia yang menggantungkan hidup, ada desa yang berharap tumbuh, dan ada generasi yang kelak ingin melihat gajah berjalan bebas di tanah kelahirannya. (Pemerintah Provinsi Lampung)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

6 + 4 = ?
Berita Terkait