Dari Pinggir Way Sekampung Menuju Panggung Sejarah. Kisah H. Syahidan MH, S.Ag

PROFIL TOKOH DAERAH • 08 Nov 2026 12:23 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 79 kali dibaca
Dari Pinggir Way Sekampung Menuju Panggung Sejarah. Kisah H. Syahidan MH, S.Ag

Otobiografi:
Anak desa yang pernah memungut kayu hanyut, kini mengabadikan namanya menjadi nama sebuah perjuangan, Natar Agung.

Dari Pinggir Way Sekampung Menuju Panggung Sejarah.

nataragung.id - Tegineneng - Nama saya H. Syahidan MH, S.Ag. Saya lahir di Mandah, pada tanggal 4 April 1972, di sebuah desa kecil di wilayah Kabupaten Lampung Selatan.

Desa tempat saya menghabiskan masa kecil itu dialiri oleh Way Sekampung, salah satu sungai terpanjang di Provinsi Lampung. Sungai itulah yang menjadi halaman bermain saya. Sejak kecil, saya sudah terbiasa berenang di Way Sekampung. Jika air sungai itu banjir, saya hobi mengambil kayu yang terbawa arus dari arah Tanggamus. Kayu-kayu yang hanyut itu, bagi anak-anak desa seperti saya, adalah rezeki sekaligus permainan.

Dari pinggir sungai itulah saya belajar satu hal yang kelak saya pegang seumur hidup: hidup itu seperti arus sungai. Kadang tenang, kadang banjir, tapi kita tidak boleh berhenti berenang.

Pendidikan saya dimulai dari Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 1979, lalu Tsanawiyah, dan Aliyah. Semuanya saya jalani di Pondok Pesantren Daarul Maarif, Tegineneng, salah satu pondok tertua di Lampung. Di pondok itulah saya ditempa. Bukan hanya belajar kitab dan pelajaran sekolah, tetapi belajar disiplin, belajar hidup sederhana, dan belajar melayani.

Sejak dari Ibtidaiyah sampai Aliyah, saya sangat aktif di organisasi. Pramuka, OSIS, dan IPNU saya ikuti dengan sungguh-sungguh. Saat duduk di bangku Aliyah, saya sudah dipercaya sebagai Sekretaris PC IPNU (Ikatan Putra Nahdlatul Ulama yang kini kembali berubah menjadi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) Kabupaten Lampung Selatan. Bagi anak desa seperti saya, kepercayaan itu adalah kehormatan yang sangat besar.

Tamat Aliyah pada tahun 1991, saya diminta untuk mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik di Madrasah Tsanawiyah dan SMP Daarul Maarif. Saya menjadi guru. Saya mengajar anak-anak desa, seperti dulu saya diajar.

Pada tahun 1991, saya juga sempat kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Raden Intan Metro, cabang IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Namun menjelang akhir semester satu, saya memutuskan berhenti, karena payahnya transportasi saat itu. Bukan karena saya menyerah, tetapi karena keadaan belum memungkinkan.

Setahun kemudian, pada tahun 1992, saya kembali kuliah, kali ini di Fakultas Syariah UIN, dulu IAIN, Raden Intan Lampung, sambil tetap mengajar. Pagi mengajar, siang dan sore kuliah, malam kembali ke pondok. Lelah, iya. Tetapi saya yakin, ilmu adalah jalan untuk mengangkat derajat diri dan desa saya.

Saat kuliah, saya dipercaya menjadi Ketua PC IPNU Lampung Selatan selama dua periode, dan juga aktif di PMII Lampung. Organisasi menjadi sekolah kedua saya, tempat saya belajar memimpin, berbicara, dan memperjuangkan kepentingan banyak orang.

Pada tahun 1997, hidup saya berbelok. Saya memutuskan berhenti dari mengajar, karena diterima sebagai wartawan Tantama, koran di bawah naungan Jawa Pos Grup, yang kemudian berubah menjadi Lampung Ekspres. Dari ruang kelas, saya pindah ke ruang redaksi. Dari mengajar anak-anak, saya belajar menulis untuk masyarakat yang lebih luas.

Tetapi takdir membawa saya ke jalan yang lebih besar lagi. Pada tahun 1999, saya memutuskan berhenti dari wartawan, karena terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan periode 1999-2004, dan berlanjut periode 2004-2009.

Perjalanan politik saya dimulai lebih awal. Pada tahun 1998, saya ditunjuk sebagai Wakil Sekretaris DPC PKB Lampung Selatan, sekaligus Ketua DKC Garda Bangsa Kabupaten Lampung Selatan. Pada pertengahan tahun 2000, saya diminta menjadi Wakil Sekretaris 1 PW GP Ansor Lampung. Ketua PW Ansor Lampung saat itu adalah Prof. Moh Mukri, yang kini menjadi Ketua PB NU.

Pada awal tahun 2001, saya diminta untuk menjadi Sekretaris Umum Pemekaran Kabupaten Pesawaran. Akhir tahun 2001, saya terpilih menjadi Ketua DPC PKB Lampung Selatan. Saya dilantik menjadi Ketua DPC pada Februari 2002 oleh Ketua DPP PKB, Efendi Chairi, atau Gus Coi.

Usai dilantik sebagai Ketua PKB, saya memutuskan mundur dari Sekretaris Pemekaran Calon Kabupaten Pesawaran, karena konsentrasi di PKB. Saat itu terjadi perseteruan antara PKB dengan mantan Ketua Umum DPP PKB, Matori Abdul Jalil, yang menghadiri Sidang MPR dalam rangka menjatuhkan Gus Dur dari jabatan presiden.

Pada akhir tahun 2002, saya terpilih sebagai Ketua Komisi A, kini Komisi I, DPRD Lampung Selatan. Di tangan saya selaku Ketua Komisi A, usulan pemekaran kabupaten Pesawaran berhasil diparipurnakan pada awal tahun 2004, dan Pesawaran berhasil menjadi Daerah Otonomi Baru pada tahun 2007. Itu adalah salah satu kebanggaan terbesar dalam hidup saya. Sebuah daerah lahir dari sebuah perjuangan yang saya ikut mengawal dari awal.

Saat menjadi Ketua PKB, saya aktif turun ke lapangan guna melakukan pembinaan. Meski di lapangan ada kendala, yaitu banyak loyalis Matori Abdul Jalil yang terus-menerus mengganggu kegiatan pembinaan, saya tidak berhenti. Saya percaya, pembinaan tidak boleh kalah oleh gangguan.

Hasilnya, pada Pileg 2004, PKB Lampung Selatan berhasil menambah satu kursi, yaitu dari empat kursi hasil Pemilu 1999 menjadi lima kursi di Pemilu 2004.

Pada Muktamar PKB tahun 2005, selaku Ketua DPC PKB Lampung Selatan, saya memilih untuk menjadi pendukung Saifullah Yusuf, Gus Ipul, yang saat itu akan maju menjadi Ketua Umum DPP PKB.

Imbas dukungan tersebut, pada akhir tahun 2006, DPC PKB Lampung Selatan dibekukan oleh Muhaimin Iskandar, dan dibentuklah caretaker DPC PKB Lampung Selatan.

Pada awal tahun 2007, DPW PKB Lampung di bawah kepemimpinan Syafrin Romas mengajukan surat PAW kepada saya. Namun hingga akhir masa jabatan tahun 2009, proses PAW itu tidak berhasil, sehingga saya bisa mengakhiri masa jabatan kedua periode 2004-2009 sampai tuntas. Padahal teman-teman saya sesama Ketua DPC sudah terkena PAW akibat mendukung PKB Pro Alwi.

Pada pertengahan tahun 2007, melalui Muswil PKB Pro Alwi, saya terpilih sebagai Ketua DPW PKB Lampung mengalahkan Joli Sanggam, ketua DPC PKB sekaligus anggota DPRD Kota Bandar Lampung. Namun sayang, pada tingkat kasasi di akhir tahun 2007, PKB Alwi dinyatakan kalah. Andai PKB Alwi tidak dinyatakan kalah oleh pengadilan, kemungkinan saya lah salah satu petinggi dan pejabat di provinsi Lampung ini, he-he-he.

Itulah masa-masa terberat dalam perjalanan saya. Dibekukan, ditekan, dan ditinggalkan oleh para teman. Tetapi saya belajar, bahwa dalam politik, kesetiaan itu diuji bukan saat kita menang, tetapi saat kita kalah dan tetap berdiri.

Usai purna bakti dari anggota DPRD Lampung Selatan yang saya lakoni selama dua periode, 1999-2009, kiprah saya tidak berhenti. Saya beserta teman-teman menggagas pembentukan DOB Natar Agung.

Dalam perjalanannya, Natar Agung pada tanggal 8 Januari 2025 berubah nama menjadi Bandar Negara, dan hingga saat ini pembahasannya masih berlangsung di Panitia Khusus Pemekaran Daerah di DPRD Kabupaten Lampung Selatan.

Natar Agung sendiri sejak 27 Oktober 2024 saya abadikan sebagai nama majalah dan portal berita yang diberi nama Natar Agung. Saya adalah Pemimpin Redaksi pada majalah dan portal berita tersebut.

Dipilihnya nama Natar Agung, dalam rangka mengabadikan nama calon DOB yang sejak tahun 2009 lalu diperjuangkan oleh saya selaku inisiator pemekaran beserta rekan-rekan yang lain.

Jika dulu saya memungut kayu yang hanyut di Way Sekampung, kini saya memungut harapan-harapan masyarakat yang hanyut dan tercecer, lalu saya kumpulkan menjadi sebuah cita-cita besar: agar Natar Agung, atau Bandar Negara, suatu hari benar-benar berdiri menjadi daerah sendiri, maju, dan membanggakan anak-anaknya.

Saya tidak tahu apakah saya akan melihat hari itu. Tetapi saya tahu satu hal: sungai tidak pernah berhenti mengalir, dan perjuangan pun tidak boleh berhenti mengalir.

Jika tulisan ini dibaca oleh anak cucu saya kelak, saya hanya ingin mereka ingat satu pesan: jangan pernah malu lahir dari desa kecil. Karena dari desa kecil, dari pinggir sungai, dari pondok yang sederhana, seseorang bisa berdiri tegak, memimpin, dan meninggalkan nama, bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk tanah tempat ia dilahirkan. (*)
Tabiik sekanuwa nuppang cekhita pun....

Editor: Arif Ashifudin, SH.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 4 = ?
Berita Terkait