Dari Kampung “Acak-acakan” Jadi Lebih Tertata, Bupati Egi Jagokan Baru Ranji Tiga Besar Desa Helau

LAMPUNG SELATAN 08 Aug 2026 11:46 Admin NA
Dari Kampung “Acak-acakan” Jadi Lebih Tertata, Bupati Egi Jagokan Baru Ranji Tiga Besar Desa Helau

nataragung.id - Merbau Mataram - Perubahan wajah Desa Baru Ranji, Kecamatan Merbau Mataram, mulai terasa dari semangat warganya.

Di tengah keterbatasan akses jalan dan sarana lingkungan, masyarakat bergotong royong menata kampung melalui program Desa Helau.

Perubahan itu terlihat saat Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama meninjau langsung pelaksanaan Desa Helau di Baru Ranji, Sabtu (8/8/2026).

Dari kunjungan tersebut, Egi menilai kekompakan masyarakat menjadi modal kuat yang membuat Desa Helau Baru Ranji layak diperhitungkan dalam tiga besar Lomba Desa Helau tingkat Kabupaten Lampung Selatan.

“Saya senang bisa ke sini, dengan segala keterbatasan. Kenapa saya bilang masuk nominasi tiga besar, karena saya melihat semangat masyarakatnya,” ujar Egi.

Menurut Egi, penilaian Desa Helau tidak hanya ditentukan oleh hasil pembangunan fisik. Lebih dari itu, kemauan masyarakat untuk bergerak bersama menjadi bagian penting dalam menciptakan perubahan di lingkungan mereka.


Ia melihat konsep Desa Helau mulai berjalan di Baru Ranji. Warga tidak hanya menata lingkungan, tetapi juga membangun dan memperbaiki fasilitas yang dapat dimanfaatkan bersama, salah satunya pos kamling yang kini dibuat lebih nyaman.

“Saya melihat konsep Desa Helaunya berjalan di sini. Pos kamlingnya juga nyaman, sesuai selera saya,” katanya.

Egi mengatakan, Desa Helau dirancang agar perubahan tidak berhenti sebagai program pemerintah, tetapi benar-benar dapat dirasakan masyarakat melalui kondisi lingkungan yang berbeda antara sebelum dan sesudah program dijalankan.

“Saya sekalian cek progresnya. Saya mau tahu tanggapan bapak ibu terhadap Desa Helau ini. Program Desa Helau ini dari kita, oleh kita, dan untuk kita,” ujarnya.

Keterbatasan Infrastruktur Jadi Perhatian

Di balik perubahan tersebut, Egi juga menemukan persoalan infrastruktur yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Salah satunya kondisi sejumlah ruas jalan menuju wilayah Baru Ranji yang dinilai cukup parah.

“Saya selaku bupati menghaturkan permintaan maaf kalau jalannya belum bagus. 30 persen rusak, 70 persen rusak banget,” ungkapnya.

Egi memastikan kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah. Namun, ia menjelaskan pembangunan infrastruktur harus dilakukan secara bertahap karena kemampuan anggaran daerah harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan di berbagai wilayah.

“Saya minta perbaiki jalan Baru Ranji. Ini saya kalau nggak ke sini, nggak ngerti kalau jalannya begitu. Duitnya terbatas, saya harus bagi-bagi. Kebutuhannya banyak,” kata Egi.


Meski masih menghadapi keterbatasan infrastruktur, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat masyarakat dalam menata lingkungan.

Sopia, warga Dusun Pilar, Desa Baru Ranji, mengatakan perubahan kampungnya kini mulai dirasakan dibandingkan kondisi sebelumnya.

“Sebelumnya kampung ini sangat jelek sekali. Sekarang sudah bagus. Jalan juga sudah bagus, sudah rapi. Anak-anak naik sepeda juga jalannya enak,” ujar Sopia.

Semangat gotong royong juga terlihat dari keterlibatan warga dalam proses penataan lingkungan. Sadna, warga Dusun Pilar, mengatakan masyarakat bahu-membahu menjalankan program Desa Helau, bahkan hampir setiap hari hingga malam.

“Alhamdulillah semangat masyarakat, hampir tiap hari, tiap malam. Abah umur 72 tahun tidur jam 12 lebih, ngikutin anak-anak biar semangat,” katanya.

Menurut Sadna, sebelum program Desa Helau berjalan, kondisi kampung masih belum tertata. Warga kemudian mulai bergerak bersama untuk membenahi lingkungan secara bertahap. “Sebelum ada Helau mah acak-acakan,” ujarnya.

Dukungan warga tidak hanya diberikan melalui tenaga dan waktu. Sadna mengungkapkan masyarakat juga memberikan dukungan secara swadaya untuk membantu proses penataan lingkungan. Ia sendiri turut menyumbang sekitar Rp10 juta.

Bagi Egi, partisipasi tersebut menjadi nilai lebih Desa Helau Baru Ranji. Di tengah keterbatasan yang masih dihadapi, masyarakat justru menunjukkan kemauan untuk memperbaiki lingkungan dengan mengandalkan kekompakan dan gotong royong.

“Yang tadinya tertinggal, tidak punya apa-apa, digas,” tegas Egi.

Semangat itulah yang menjadi pertimbangan Egi untuk menilai Desa Helau Baru Ranji layak masuk nominasi tiga besar. Menurutnya, perubahan desa tidak selalu harus dimulai dari kondisi yang serba lengkap, tetapi dapat tumbuh dari kemauan masyarakat untuk bergerak bersama.

Di Baru Ranji, semangat tersebut mulai mengubah wajah lingkungan secara bertahap. Gotong royong menjadi kekuatan utama masyarakat untuk menjadikan program Desa Helau bukan sekadar penataan kampung, melainkan gerakan bersama yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh warga. (mara-kmf)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

6 + 4 = ?
Berita Terkait