Cermin Retak: Politik Uang di Tubuh NU. Oleh : Mukhotib MD. Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta
nataragung.id - Yogyakarta - Suhu politik di tubuh NU sudah terasa memanas. Ibarat demam, tak ubahnya demam berdarah. Naik turun tak jelas hitungan suhunya.
Pakde Kliwon, sebagai warga NU, memang selalu mengikuti informasi ontran-ontran di tubuh organisasi yang ia cintai sampai ubun-ubun.
Bahkan, waktu mudanya, ia tetap memilih menjadi pengurus satu Badan Otonom meski pacarnya mengancam akan memutus tali tali cintanya. Padahal cinta itu sudah dirawatnya sejak ia duduk di Madrasah Tsanwayiah, dan idolanya masih kelas VI Madrasah Ibtidaiyah.
"Lho, saya NU sejak dalam kandungan," katanya berapi-api saat ngobrol di warung Yuk Nah.
Tangan kanannya memegang HP yang menayangkan video para calon Ketua Umum PBNU. Ia percaya para pemosting video itu pasti para pendukung masing-masing calon itu.
"Memangnya enggak makruh tuh orang-orang yang mencalonkan diri," tanya Yuk Nah sambil meniriskan pisang goreng, dan tangan kanannya memasukkan pisang yang bermandikan tepung terigu ke dalam wajan.
"Ya, enggak lah. Di tubuh NU juga penting berlatih demokrasi. Tidak haram mencalonkan diri," ujar Pakde Kliwon dengan nada tinggi. Entah apa yang membuat ia menjadi terasa emosional menjawabnya.
"Kan para calon itu dengar-dengar pada mau main uang? Jangan-jangan uang hasil sedekah tuh," ucap Pakde No. Kali ini kata-katanya memang seperti disengaja menyindir dengan telak.
"Saya yakin, para calon itu orang-orang yang hebat. Mereka tidak akan main uang," sanggah Pakde Kliwon.
"Sepertinya para pembayar itu bukan calonnya, tetapi orang-orang yang punya kepentingan dengan para calon," sergah Yuk Nah. Nadanya memanas, mendidih seperti minyak di penggorengan. Fatamorgana memganbang di atasnya.
"Itu, Won yang sedang saya pikirkan," sambung Pakde No.
Pakde Kliwon tampak ragu-ragu. Mata tuanya berputar-putar. Bibirnya bergetar. Nalarnya mulai bekerja. "Bagaimana kalau yang jadi cukong bukan calonnya?" tanyanya dalam hati.
Ia memandangi Pakde No dan Yuk Nah bergantian. Ia seakan ingin bicara, masih ingin melanjutkan keyakinan para calon enggak akan main uang.
Dan ia masih tetap yakin, mereka yang meramaikan soal politik uang adalah mereka yang sedang mencari uang. Memangnya uang terbang sendiri ke PCNU dan PWNU? Memangnya mereka yang mengantar keliling ke Nusantara tak butuh makan, tak butuh biaya kendaraan, tak butuh menginap, dan tak butuh uang saku?
Para makelar itulah yang sedang butuh uang. Mereka yang berburu rente untuk mendapatkan keuntungan dari politik uang.
Pakde No dan Yuk Nah yang sekarang tampak kehabisan kata-kata saat mendengar berondongan argumentasi dari Pakde No.
"Saat ini kita tak perlu takut dengan politik uang, ketika para pemilik suara memiliki keteguhan dan integritas," kataku menyela di antara jarak sunyi di antara mereka bertiga.
Saya tak tahu, apakah omonganku bisa mereka terima. Yang pasti, Yuk Nah sibuk dengan gorengannya, Pakde No sibuk melinting rokok, dan Pakde Kliwon kembali asyik menikmati podcast para calon dan mendukungnya.
Tentu juga soal tayangan tentang ketakutan pemerintah akan ikut campur dalam proses pemilihan saat Muktamar 35 di Tambak Beras. (*)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar