Buku Seri: Lampung Sebagai 'Ladang Emas Hitam' Belanda Seri – 1: Negeri di Bawah Naungan Lada. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun.
Mari saya dudukkan Anda di beranda ini. Kopi sudah disuguhkan, pisang emas sudah dipotong. Malam ini saya mau bercerita tentang sesuatu yang mungkin tidak pernah Bapak-Ibu dengar di bangku sekolah. Tentang tanah kita, Sai Bumi Ruwa Jurai, yang pernah dijuluki Belanda sebagai ladang emas hitam.
Bukan karena tanahnya benar-benar mengandung emas. Tapi karena butir-butir kecil berwarna hitam yang tumbuh di bawah pohon dadap itu pernah mengguncang pasar dunia.
Konon, di sebuah tiyuh kecil bernama Kibang, di tepi Way Tulang Bawang, hiduplah seorang petani tua. Suatu pagi, ia melihat butir-butir kecil bergelantungan di bawah daun pohon dadap. Ia petik satu, ia gigit. Pedas. Wangi. Lidahnya terbakar, tapi matanya terbuka.
Butir itu ia bawa ke pasar. Pedagang dari Banten yang kebetulan singgah terbelalak. “Ini lada,” katanya. “Dan ini yang terbaik yang pernah saya cium.”
Sejak hari itu, tidak ada lagi pagi yang sunyi di Kibang. Orang-orang datang dari jauh. Mereka membawa kain, garam, dan uang. Mereka pulang membawa butir-butir hitam yang membuat dapur di negeri seberang mengepul harum.
Petuah orang tua kami: Lada itu bukan sekadar rempah. Ia adalah catatan perjalanan orang Lampung.
Sejak abad ke-16, lada Lampung sudah dikenal sebagai yang terkuat di Sumatera. Ketika Belanda datang dan mengganti banyak komoditas dengan kopi, tembakau, dan nila, lada Lampung tetap dipertahankan. Mereka tahu kualitasnya tidak bisa ditandingi.
Di tangan Belanda, lada menjadi alat kekuasaan. Petani diwajibkan menjual hasil panennya kepada pemerintah kolonial melalui kepala marga. Punyimbang yang seharusnya melindungi rakyat, mau tidak mau, menjadi perpanjangan tangan penjajah.
Tapi mari kita jujur. Tidak semua punyimbang rela. Banyak yang berpura-pura patuh sambil menyembunyikan sebagian panen. Ada pula yang membiarkan ladanya “gagal” padahal subur. Ini bukan pengkhianatan. Ini cara bertahan hidup.
Bagi orang Lampung, lada bukan hanya barang dagangan. Ia hadir dalam doa sebelum menanam. Ia hadir dalam hitungan hari panen. Ia hadir dalam pembagian hasil yang dilakukan dengan Sakai Sambayan, gotong-royong, bahu-membahu, tanpa diminta.
Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2): 261:
مَثَلُ الَّذِيۡنَ يُنۡفِقُوۡنَ اَمۡوَالَهُمۡ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنۡۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ فِىۡ كُلِّ سُنۡۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍؕ وَاللّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنۡ يَّشَآءُ ؕ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌ
Masalul laziina yunfiquuna amwaalahum fii sabiilil laahi kamasali habbatin ambatat sab'a sanaabila fii kulli sumbulatim mi'atu habbah; wallaahu yudaa'ifu limai yashaaa; wallaahu Waasi'un 'Aliim
"Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui."
Satu bibit lada yang ditanam dengan niat baik, dirawat dengan sabar, dipanen dengan syukur, dan dibagikan dengan adil, itulah amal yang berlipat. Itulah cara orang Lampung membaca ayat ini, jauh sebelum mereka tahu istilah “tawakal” dalam bahasa Arab.
Tapi cerita ini tidak dimulai dari Belanda. Ia dimulai dari Banten.
Pada tahun 1670, sebuah prasasti tembaga ditanam di Bojong. Isinya bukan doa, melainkan perintah: semua lada harus disetor ke Banten melalui jenang, wakil Sultan di Lampung. Siapa yang menjual lada kepada orang Palembang, tangkap. Siapa yang melawan, ikat. Keluarganya dibawa ke Banten.
Prasasti itu masih ada. Hurufnya Arab, bahasanya Jawa Banten. Tapi yang dibicarakannya adalah lada kita.
Mengapa Banten begitu keras?
Karena lada adalah nyawa bagi mereka. Dan Lampung adalah sumbernya.
Dalam catatan sejarah, lada dari Lampung pernah menyumbang hampir setengah dari seluruh lada yang dibeli VOC di Asia sepanjang abad ke-18.
Tapi petani Lampung? Mereka tetap miskin.
Belanda mendirikan benteng di Menggala pada tahun 1668. Mereka mengira bisa menguasai segalanya dengan meriam dan kontrak.
Mereka salah.
Di Tulang Bawang, petani lebih suka menjual lada ke Palembang karena harga lebih baik. Di Semangka, pedagang Inggris diam-diam membeli lada dari nelayan kita. Belanda marah, membangun pos pengawasan, tetapi arus penyelundupan tidak pernah benar-benar berhenti.
Ini bukan kisah kepahlawanan yang gagah berani. Ini kisah orang-orang biasa yang ingin makan. Yang ingin anaknya sekolah. Yang ingin punggungnya tidak terus-menerus membungkuk di bawah beban pajak.
Dan kadang, bertahan hidup adalah bentuk perlawanan yang paling mulia.
Orang selalu bercerita tentang tanam paksa di Jawa. Tentang kopi Priangan. Tentang penderitaan yang tercatat dalam novel Multatuli.
Di Lampung, tanam paksa juga ada. Tahun 1830-1865, Belanda mewajibkan petani menanam lada dalam jumlah tertentu. Tapi skalanya lebih kecil. Sebagian karena lada Lampung tidak pernah sepenuhnya bisa dikendalikan.
Namun penderitaannya nyata. Harga ditentukan sepihak. Utang kepada jenang menumpuk. Ketika panen gagal, petani tetap harus menyetor. Ketika panen berhasil, harga jatuh.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa menanam tanaman, lalu burung atau manusia atau hewan memakannya, maka itu menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari).
Orang Lampung menanam lada bukan untuk sedekah. Mereka menanam untuk bertahan hidup. Tapi hasilnya, tanpa mereka sadari, telah memberi makan dunia.
Saya tidak bisa bercerita tentang lada tanpa bercerita tentang perempuan.
Ketika laki-laki berada di kebun, perempuan menenun. Di Pekon Kenali, di Krui, di Kalianda, kain tapis lahir dari tangan-tangan yang tidak pernah lelah. Benang emas disusun menjadi motif cumi-cumi, pucuk rebung, jajak. Setiap motif punya arti. Setiap arti punya doa.
Tapis bukan sekadar kain. Ia adalah cara perempuan Lampung menjaga Piil Pesenggiri ketika dunia di luar rumah berubah terlalu cepat.
Saya sering bertanya kepada anak-anak muda di kampung: “Kalian tahu tidak, dulu lada dari Tulang Bawang dikirim ke London, Hamburg, New York?”
Mereka menggeleng.
Sejarah lada Lampung kalah populer dibanding kopi Priangan atau tanam paksa di Jawa. Padahal, dari tanah kitalah dunia pernah merasakan pedas yang mengubah selera Eropa.
Mengetahui sejarah ini bukan untuk membanggakan masa lalu. Tapi untuk mengingatkan diri: tanah yang kita pijak ini pernah menjadi pusat dunia. Dan orang-orang yang merawatnya, petani-petani kecil di tepi sungai, perempuan-perempuan yang menenun di beranda, adalah pahlawan yang tidak pernah masuk buku sejarah.
Anakku, lada itu kecil. Tapi ia pernah mengguncang dunia.
Jangan biarkan sejarah ini hilang dari cerita kampung kita.
Tanah Lampung pernah disebut ladang emas hitam. Bukan karena lada itu emas. Tapi karena keringat orang-orang yang menanamnya lebih berharga dari emas.
Tabik pun.
Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 5: Nyimah, Ngelangkok, dan Mulim – Tiga Tali Adat. Natar Agung.
2. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Piil Pesenggiri, Harga Diri yang Tak Pernah Padam. Hatipena.
3. Karsiwan. Sejarah Lada: Lampung dan Dinamika Perdagangan Lada. Repository Metro Uniw.
4. Masroh, Laelatul. “Perkebunan dan Perdagangan Lada di Lampung Tahun 1816-1942”. Jurnal Sejarah dan Budaya. Universitas Negeri Malang.
5. “Dampak Kebijakan Tanam Paksa (1830) terhadap Keadaan Sosial di Lampung”. Jurnal Jejak. Universitas Jambi.
6. “Fungsi Pelabuhan Panjang sebagai Pelabuhan Pengekspor Lada, 1923-1930”. Purbawidya. BRIN.
7. Lembaga Adat Provinsi Lampung. Kuntara Raja Niti.
8. Al-Qur’an Al-Karim, QS. Al-Baqarah (2): 261.
9. Shahih Bukhari, no. 2320.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar