Budaya Lampung yang Perlahan Menghilang dari Kehidupan Generasi Muda Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 17 Oct 2026 00:09 • Admin NA • 25 kali dibaca
Budaya Lampung yang Perlahan Menghilang dari Kehidupan Generasi Muda Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, anak-anakku sekalian.
Duduklah dulu di beranda ini. Hari sudah sore, matahari mulai turun di balik Bukit Barisan. Angin dari arah Krui membawa bau laut. Enak rasanya bercerita di waktu seperti ini.

Di Kampung Kota Agung, dulu hidup seorang tetua bergelar Punyimbang Ratu Alam. Ia terkenal bukan karena kekayaannya. Ia terkenal karena ingatannya.
Ia hafal silsilah marga sampai tujuh turunan. Ia tahu kapan musim tanam, kapan musim panen, kapan upacara adat digelar. Orang kampung datang kepadanya kalau ada perkara.

Suatu hari, cucunya pulang dari kota. Anak itu sudah lama tidak pulang. Ia sekarang bekerja di Bandar Lampung.
Tetua itu bertanya, "Kapan terakhir kau ikut Begawi?"
Cucunya terdiam. Ia tidak ingat.
"Kapan terakhir kau dengar pantun Lampung?"
Cucunya menggeleng.
Tetua itu tidak marah. Ia hanya berkata pelan, "Dulu, adat ini hidup di rumah. Di dapur. Di sawah. Di jalan. Sekarang, adat ini hanya hidup di balai. Kalau begitu, ia akan mati."
Petuah itu yang akan kita renungkan hari ini.

Banyak tradisi dahulu hidup dalam kehidupan sehari-hari. Nilai adat diajarkan melalui keluarga. Lewat lingkungan. Lewat berbagai kegiatan masyarakat.
Ibu mengajarkan Nemui Nyimah saat menerima tamu. Ayah mengajarkan Sakai Sambayan saat memperbaiki rumah tetangga. Kakek mengajarkan Piil Pesenggiri saat menolak perbuatan tercela.
Anak-anak belajar bukan karena diajar di sekolah. Mereka belajar karena melihat. Karena mendengar. Karena hidup di dalamnya.
Kini, perubahan gaya hidup membuat sebagian tradisi semakin jarang ditemui.

Jika budaya hanya hadir dalam acara resmi, generasi muda akan semakin jauh dari kehidupan adat yang sebenarnya. Adat akan terasa seperti pakaian yang dipakai hanya saat pesta. Bukan seperti kulit yang menempel di badan.

Lampung disebut Sai Bumi Ruwa Jurai. Satu bumi, dua jurai.
Jurai pertama Pepadun, jurai kedua Saibatin.
Pepadun hidup di pedalaman. Di Abung, Way Kanan, Tulang Bawang, Seputih. Saibatin hidup di pesisir. Dari Krui sampai Kalianda.
Dua jurai ini berbeda tata cara, tapi satu nafas. Keduanya berdiri di atas Piil Pesenggiri.
Piil Pesenggiri berarti harga diri dan kehormatan. Orang Lampung boleh miskin harta, tapi tidak boleh miskin marwah.
Allah berfirman: 
وَلَـقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىۡۤ اٰدَمَ وَحَمَلۡنٰهُمۡ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنٰهُمۡ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلۡنٰهُمۡ عَلٰى كَثِيۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيۡلًا
Wa laqad karramnaa Baniii aadama wa hamalnaahum fil barri walbahri wa razaqnaahum minat taiyibaati wa faddalnaahum 'alaa kasiirim mimman khalaqnaa tafdiilaa
"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna."  (QS. Al-Isra: 70).

Ayat ini turun sebagai penegasan bahwa kemuliaan manusia adalah pemberian Allah. Maka menjaga harga diri bukan kesombongan. Ia adalah syukur atas kemuliaan yang Allah titipkan.

Juluk-Adok, gelar kehormatan. Gelar Dalom, Punyimbang, atau Sutan bukan mahkota. Ia amanah. Semakin tinggi gelar, semakin besar tanggung jawab.
Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Rumah orang Lampung terbuka bagi tamu. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Nengah Nyappur, keterbukaan dan kemampuan bergaul. Orang Lampung tidak menyendiri. Ia hadir di tengah masyarakat.
Sakai Sambayan, gotong-royong. Allah berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa." (QS. Al-Ma'idah: 2).

Ayat ini turun ketika kaum mukmin diperintahkan saling menguatkan. Bukan saling menjatuhkan.
Kelima tiang ini bukan buatan manusia semata. Ia kearifan yang Allah tanamkan dalam hati orang Lampung. Lalu disempurnakan oleh wahyu.

Marga-marga Pepadun seperti Buay Pemuka, Buay Peminggir, dan Buay Nunyai punya silsilah panjang. Konon mereka keturunan Raja Tumi di Sekala Brak.
Dalam Kronik Sekala Brak disebutkan bahwa sebelum Islam datang, negeri ini diperintah oleh empat raja dari keturunan Dewa.
Setelah Islam masuk melalui ulama dari Pagaruyung dan Banten, gelar-gelar itu dilebur ke dalam kerangka syariat. Tidak ada yang hilang. Hanya disempurnakan.

Marga Saibatin seperti Belalau, Pesisir, dan Melinting menempati garis pantai. Mereka dikenal dengan gelar Sutan, Raja, atau Batin.
Di Kampung Gunung Sugih, seorang Punyimbang tua pernah berkata, "Kalau aku memutuskan dengan marah, aku bukan Punyimbang. Aku hanya orang yang kebetulan duduk di kursi."

Banyak upacara adat Lampung yang jika dipahami dengan benar, justru selaras dengan Islam.
Ngebabali adalah tradisi membersihkan dan menempati rumah baru. Dulu dilakukan dengan sesajen. Kini, setelah Islam menjadi nafas masyarakat, Ngebabali diisi dengan doa, selawat, dan sedekah.
Tidak ada lagi persembahan kepada selain Allah. Yang tinggal hanyalah semangat syukur dan silaturahmi.

Begawi adalah upacara pemberian gelar adat. Sebelum gelar disandang, dibacakan doa dan nasihat agama. Gelar bukan untuk menyombongkan diri. Ia untuk mengingatkan bahwa semakin tinggi kedudukan, semakin besar tanggung jawab di hadapan Allah.
Cangget adalah tari penyambutan tamu. Dimainkan dengan gerak lembut dan penuh hormat. Tidak ada unsur syirik di dalamnya. Cangget adalah ekspresi Nemui Nyimah.
Kita tidak perlu membuang adat yang baik. Kita hanya perlu menyucikannya dari yang bukan berasal dari Allah.
Pancasila bukan barang asing bagi orang Lampung.
Sila pertama tercermin dalam tauhid yang dianut. Sila kedua dalam Piil Pesenggiri. Sila ketiga dalam Sai Bumi Ruwa Jurai. Sila keempat dalam musyawarah Punyimbang. Sila kelima dalam Sakai Sambayan.
Jadi, ketika orang bertanya apakah Pancasila sesuai dengan adat Lampung, jawabannya sederhana. Pancasila bukan menimpa adat. Ia menegaskan apa yang sudah lama tumbuh di bumi ini.
Sekarang, mari kita jujur. Banyak anak muda Lampung tidak lagi bisa berbahasa Lampung. Banyak yang tidak tahu marga sendiri.
Tapi kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh hanya menyalahkan zaman.
Adat harus dikembalikan ke rumah. Ke dapur. Ke sawah. Ke jalan.
Orang tua harus bercerita lagi sebelum tidur. Ibu harus mengajarkan pantun lagi saat menidurkan anak. Ayah harus mengajak anak ke upacara adat.
Guru harus mengajarkan bahasa Lampung dengan gembira. Tokoh adat harus membuka rumah untuk cerita, bukan hanya untuk tamu resmi.

Anak-anakku, adat itu seperti api. Ia tidak akan menyala sendiri. Harus ada yang menaruh kayu, meniup bara, menjaganya dari hujan.
Dulu, kayu itu ada di setiap rumah. Sekarang, kayu itu harus kita cari lagi. Kita taruh lagi di setiap rumah.

Petuah Penutup
Allah berfirman: 
وَلَا تَكُوۡنُوۡا كَالَّذِيۡنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنۡسٰٮهُمۡ اَنۡفُسَهُمۡ‌ؕ اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ
Wa laa takuunuu kallaziina nasul laaha fa ansaahum anfusahum; ulaaa'ika humul faasiquun
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik." (QS. Al-Hasyr: 19).

Ayat ini turun sebagai peringatan bagi orang yang lalai terhadap jati dirinya.
Kalau kita melupakan adat, kita akan melupakan siapa diri kita. Dan kalau kita lupa siapa diri kita, kita akan kehilangan arah di hadapan Allah dan di hadapan manusia.

Maka jagalah adat. Bukan karena ia tua, tapi karena ia benar. Bukan karena ia milik nenek moyang saja, tapi karena ia milik anak cucu kita.
Jangan biarkan adat hanya hidup di balai. Biarkan ia hidup di rumah. Di hati. Di kehidupan sehari-hari.
Tabik pun.

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani, gelar Dalom Putekha Jaya Makhga. Adat Pepadun Lampung dan Tata Cara Begawi. Bandar Lampung: Penerbit Budaya Lampung.
2. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
3. Al-Qur'an al-Karim dan terjemahnya. Kementerian Agama Republik Indonesia.
4. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, kitab al-Adab.
5. Kronik Sekala Brak, naskah kuno masyarakat Lampung Barat.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

9 + 9 = ?
Berita Terkait