Akankah Adat Lampung Benar-Benar Punah? Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, anak-anakku sekalian. Duduklah sebentar di beranda ini. Biarlah orang tua bercerita, sebab banyak yang harus diwariskan sebelum senja turun.
Di Kampung Negeri Olok Gading, dulu hidup seorang tua bergelar Raja Bangsawan. Setiap malam bulan purnama, ia duduk di balai dan memanggil anak-anak muda. "Kalian ini bukan pewaris tanah," katanya pelan. "Kalian ini pewaris nama. Kalau nama itu hilang, tanah pun jadi asing bagi pemiliknya."
Seorang pemuda bertanya, "Apa maksudnya, Datuk?"
Orang tua itu tersenyum. "Adat Lampung bukan sekadar upacara. Ia adalah cara kita berdiri di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia."
Begitulah orang tua dahulu mengajar. Tidak dengan marah, tetapi dengan cerita.
Kepunahan budaya tidak datang seperti banjir bandang. Ia datang seperti sungai yang surut perlahan. Satu kali upacara tak lagi dihadiri, satu kali gelar tak lagi disebut, satu kali pantun tak lagi dinyanyikan. Lama-lama kering.
Jika anak-anak tidak mengenal adat, remaja tidak tertarik pada tradisi, dan orang dewasa berhenti mengajarkan, maka di situlah ancaman sesungguhnya. Karena itu pelestarian harus dimulai sekarang, bukan setelah semuanya terlambat.
Di Lampung, kita mengenal dua rumpun besar: Pepadun di pedalaman dan Saibatin di pesisir. Keduanya berbeda tata cara, tetapi satu nafas. Keduanya berdiri di atas Piil Pesenggiri.
Piil Pesenggiri berarti harga diri dan kehormatan. Orang Lampung boleh miskin harta, tetapi tidak boleh miskin marwah.
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
وَلَـقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِىۡۤ اٰدَمَ وَحَمَلۡنٰهُمۡ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنٰهُمۡ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلۡنٰهُمۡ عَلٰى كَثِيۡرٍ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيۡلًا
Wa laqad karramnaa Baniii aadama wa hamalnaahum fil barri walbahri wa razaqnaahum minat taiyibaati wa faddalnaahum 'alaa kasiirim mimman khalaqnaa tafdiilaa.
"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna." (QS. Al-Isra: 70).
Ayat ini turun sebagai penegasan bahwa kemuliaan manusia adalah pemberian Allah, bukan pemberian manusia. Maka menjaga harga diri bukan kesombongan, melainkan syukur atas kemuliaan yang Allah titipkan.
Juluk-Adok, yakni gelar kehormatan. Seseorang diberi gelar bukan untuk membanggakan diri, tetapi untuk mengingatkan tanggung jawab. Gelar Dalom, Punyimbang, atau Sutan bukan mahkota, melainkan amanah.
Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Rumah orang Lampung terbuka bagi tamu. Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari dan Muslim). Nemui Nyimah adalah hadis yang hidup di bumi Lampung.
Nengah Nyappur, keterbukaan dan kemampuan bergaul. Orang Lampung tidak menyendiri. Ia hadir di tengah masyarakat, duduk bersama, berbicara bersama, membangun bersama.
Sakai Sambayan, gotong-royong. Beban berat dipikul bersama, hasil dinikmati bersama.
Allah berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُحِلُّوۡا شَعَآٮِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهۡرَ الۡحَـرَامَ وَلَا الۡهَدۡىَ وَلَا الۡقَلَٓاٮِٕدَ وَلَاۤ آٰمِّيۡنَ الۡبَيۡتَ الۡحَـرَامَ يَبۡـتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّهِمۡ وَرِضۡوَانًا ؕ وَاِذَا حَلَلۡتُمۡ فَاصۡطَادُوۡا ؕ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡكُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا ۘ وَتَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡبِرِّ وَالتَّقۡوٰى ۖ وَلَا تَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridhaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 2).
Ayat ini turun ketika kaum mukmin diperintahkan saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
Kelima tiang ini bukan buatan manusia semata. Ia adalah kearifan yang Allah tanamkan dalam hati orang Lampung, lalu disempurnakan oleh wahyu.
Lampung disebut Sai Bumi Ruwa Jurai, satu bumi dua jurai. Jurai pertama adalah Pepadun, jurai kedua adalah Saibatin. Dua sungai, satu muara.
Marga-marga Pepadun seperti Buay Pemuka, Buay Peminggir, dan Buay Nunyai memiliki silsilah panjang. Konon mereka berasal dari keturunan Raja Tumi di Sekala Brak, yang kemudian menyebar ke Abung, Way Kanan, Tulang Bawang, dan Seputih.
Sementara marga Saibatin seperti Belalau, Pesisir, dan Melinting menempati garis pantai dari Krui hingga Kalianda. Mereka dikenal dengan gelar Sutan, Raja, atau Batin.
Dalam Kronik Sekala Brak disebutkan bahwa sebelum Islam datang, negeri ini diperintah oleh empat raja dari keturunan Dewa. Setelah Islam masuk melalui ulama dari Pagaruyung dan Banten, gelar-gelar itu dilebur ke dalam kerangka syariat.
Tidak ada yang hilang, hanya disempurnakan.
Di setiap kampung, ada yang disebut Kutei, yakni wilayah adat setingkat desa. Pemimpinnya bergelar Punyimbang, orang yang menimbang perkara dengan adil.
Punyimbang bukan penguasa, melainkan penengah. Ia duduk di tengah, mendengar dua pihak, lalu memutuskan dengan musyawarah. Inilah ruh Pancasila sila keempat, yang ternyata sudah dipraktikkan jauh sebelum republik ini lahir.
Di Kampung Gunung Sugih, seorang Punyimbang tua pernah berkata, "Kalau aku memutuskan dengan marah, aku bukan Punyimbang. Aku hanya orang yang kebetulan duduk di kursi."
Banyak upacara adat Lampung yang jika dipahami dengan benar, justru selaras dengan Islam.
Ngebabali, misalnya, adalah tradisi membersihkan dan menempati rumah baru. Dulu dilakukan dengan sesajen. Namun kini, setelah Islam menjadi nafas masyarakat, Ngebabali diisi dengan doa, selawat, dan sedekah. Tidak ada lagi persembahan kepada selain Allah. Yang tinggal hanyalah semangat syukur dan silaturahmi.
Begawi, upacara pemberian gelar adat, juga telah disesuaikan. Sebelum gelar disandang, dibacakan doa dan nasihat agama. Gelar bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk mengingatkan bahwa semakin tinggi kedudukan, semakin besar tanggung jawab di hadapan Allah.
Cangget, tari penyambutan tamu, dimainkan dengan gerak lembut dan penuh hormat. Tidak ada unsur syirik di dalamnya. Cangget adalah ekspresi Nemui Nyimah, menghormati tamu sebagaimana diperintahkan Rasulullah SAW.
Kita tidak perlu membuang adat yang baik. Kita hanya perlu menyucikannya dari yang bukan berasal dari Allah.
Orang Lampung mengenal pepatah "Lappung sai, Lappung semuong, sai bumi ruwa jurai." Artinya, Lampung itu satu, Lampung yang satu, satu bumi dua jurai. Pepatah ini mengingatkan bahwa perbedaan Pepadun dan Saibatin bukan alasan untuk berpecah.
Ada juga pepatah "Adat sai, agama sai." Adat dan agama bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya satu, saling menopang.
Pancasila pun bukan barang asing bagi orang Lampung. Sila pertama tercermin dalam tauhid yang dianut. Sila kedua dalam Piil Pesenggiri. Sila ketiga dalam Sai Bumi Ruwa Jurai. Sila keempat dalam musyawarah Punyimbang. Sila kelima dalam Sakai Sambayan.
Jadi, ketika orang bertanya apakah Pancasila itu sesuai dengan adat Lampung, jawabannya sederhana. Pancasila bukan menimpa adat, ia menegaskan apa yang sudah lama tumbuh di bumi ini.
Sekarang, mari kita jujur. Banyak anak muda Lampung tidak lagi bisa berbahasa Lampung. Banyak yang tidak tahu marga sendiri. Banyak yang tidak hadir ketika Begawi digelar di kampungnya.
Kalau ini dibiarkan, bukan mustahil satu generasi lagi, kata "Punyimbang" hanya ada di buku. "Nengah Nyappur" hanya jadi slogan di spanduk.
Namun kita tidak boleh menyerah. Pelestarian bisa dimulai dari hal kecil. Orang tua mengajak anak ke upacara adat. Guru mengajarkan bahasa Lampung dengan gembira. Tokoh adat membuka rumah untuk cerita, bukan hanya untuk tamu resmi.
Anak-anakku, adat itu seperti api. Ia tidak akan menyala sendiri. Harus ada yang menaruh kayu, meniup bara, menjaganya dari hujan.
Allah berfirman:
وَلَا تَكُوۡنُوۡا كَالَّذِيۡنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَنۡسٰٮهُمۡ اَنۡفُسَهُمۡؕ اُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ
Wa laa takuunuu kallaziina nasul laaha fa ansaahum anfusahum; ulaaa'ika humul faasiquun.
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik." (QS. Al-Hasyr: 19).
Ayat ini turun sebagai peringatan bagi orang yang lalai terhadap jati dirinya.
Kalau kita melupakan adat, kita akan melupakan siapa diri kita. Dan kalau kita lupa siapa diri kita, kita akan kehilangan arah di hadapan Allah dan di hadapan manusia.
Maka jagalah adat. Bukan karena ia tua, tetapi karena ia benar. Bukan karena ia milik nenek moyang saja, tetapi karena ia milik anak cucu kita.
Tabik pun.
Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani, gelar Dalom Putekha Jaya Makhga. Adat Pepadun Lampung dan Tata Cara Begawi. Bandar Lampung: Penerbit Budaya Lampung.
2. Hadikusuma, Hilman. Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
3. Al-Qur'an al-Karim dan terjemahnya. Kementerian Agama Republik Indonesia.
4. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, kitab al-Adab.
5. Kronik Sekala Brak, naskah kuno masyarakat Lampung Barat.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Raja Bangsawan, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar